Kamis, 22 Januari 2009

Pidato Pertama Presiden Obama

[Berikut adalah terjemahan pidato pertama Barack Hussein Obama sebagai Presiden ke-44 AS, pada Selasa, 20 Januari 2009, Capitoll Hil, Washington D.C. Terjemahan ini didapat dari Kedutaan Besar AS di Jakarta. Meski tidak sehebat pidato kemenangan di Grant Park, tetap saja ucapan Obama sebagai Presiden AS ini menarik untuk disimak. Turut disertakan video acara pelantikan, mulai dari keberangkatan Obama dari Gedung Putih menuju Capitol Hill hingga Obama kembali ke Gedung Putih sebagai Presiden AS. Beberapa foto turut pula ditampilkan]


Rekan-rekan sebangsa dan setanah air;

Saya berdiri di sini hari ini terenyak oleh tugas di depan kita, berterima kasih atas kepercayaan yang Anda berikan, dan teringat akan pengorbanan oleh leluhur kita. Saya berterima kasih kepada Presiden Bush atas jasanya pada bangsa kita, dan juga atas kemurahan hati dan kerja sama yang ditunjukkannya pada masa transisi ini.

Sudah 44 warga Amerika yang diambil sumpahnya sebagai presiden. Kata-kata dalam sumpah jabatan itu telah diucapkan dimasa kemakmuran dan dimasa damai. Namun, ada kalanya sumpah jabatan kepresidenan itu diambil di tengah-tengah situasi gawat dan badai yang berkecamuk. Pada saat-saat demikian, Amerika terus melaksanakan tugasnya bukan hanya karena keterampilan atau visi mereka yang memegang jabatan tinggi, tetapi karena kita rakyat Amerika tetap setia pada cita-cita leluhur kita dan setia pada dokumen-dokumen yang dirumuskan oleh para pendiri negara kita.

Demikianlah adanya, dan memang selalu demikianlah yang harus dilakukan oleh generasi Amerika yang sekarang ini.

Memang sudah dipahami bahwa kita sedang berada di tengah krisis. Bangsa kita kini sedang terlibat perang, Melawan jaringan kekerasan dan kebencian yang jauh jangkauannya. Ekonomi kita sangat lemah, akibat ketamakan dan tindakan tidak bertanggung jawab oleh sebagian pihak, tetapi juga karena kegagalan kita secara kolektif untuk membuat pilihan-pilihan sulit, dan kegagalan kita mempersiapkan bangsa bagi abad baru. Banyak rumah yang disita, lapangan kerja menurun drastis, bisnis gulung tikar. Asuransi kesehatan kita terlalu mahal, murid-murid sekolah kita banyak yang gagal, dan setiap hari terlihat bukti bahwa cara-cara kita menggunakan energi justru memperkuat musuh-musuh kita dan mengancam planet kita.

Semua itu merupakan indikator krisis, yang didasarkan pada data dan statistik. Yang kurang bisa diukur tetapi tidak kurang pentingnya adalah melemahnya keyakinan di seluruh pelosok Amerika – kekhawatiran terus-menerus bahwa kemerosotan Amerika tak terelakkan lagi, dan bahwa generasi berikutnya harus mengurangi harapannya.

Hari ini saya katakan kepada kalian bahwa tantangan-tantangan yang kita hadapi adalah nyata. Tantangan ini serius dan banyak. Tidak akan mudah diatasi dan tidak bisa diatasi dalam jangka pendek. Tetapi ketahuilah ini, Amerika, semua tantangan ini akan kita hadapi.

Pada hari ini, kita berkumpul karena kita lebih memilih harapan daripada ketakutan, kesatuan tujuan daripada konflik dan pertentangan.

Pada hari ini, kita berkumpul untuk menyatakan berakhirnya keluhan-keluhan kecil dan janji-janji palsu, saling-tuduh dan berbagai dogma lusuh yang sudah terlalu lama mencekik politik kita.

Negara kita masih muda, dengan meminjam kata-kata dalam Kitab Suci, saatnya sudah tiba kita menepiskan sifat ke kanak-kanakan. Saatnya sudah tiba untuk menandaskan lagi semangat kita yang tegar, memilih jalan sejarah yang lebih baik, melanjutkan pemberian berharga, gagasan mulia yang diteruskan dari generasi ke generasi: yaitu janji yang diberikan Tuhan bahwa semua kita setara, kita semua bebas, dan semua layak memperoleh kesempatan untuk mengejar kebahagiaan sepenuhnya.

Dalam menandaskan kebesaran bangsa kita, kita memahami bahwa kebesaran tak pernah diberikan begitu saja. Mencapai kebesaran harus dengan kerja-keras. Perjalanan yang kita tempuh tak pernah mengambil jalan pintas. Perjalanan kita bukan bagi mereka yang tidak-tabah, bukan bagi mereka yang suka bermalas-malas daripada bekerja, atau bagi yang hanya mengejar kekayaan dan menjadi terkenal. Perjalanan kita adalah bagi mereka yang berani mengambil resiko, mereka yang melakukan hal-hal baru dan membuat barang-barang baru. Sebagian mereka menjadi terkenal, tetapi acap kali laki-laki dan perempuan tak dikenal dalam pekerjaan mereka, yang telah mengusung kita di atas jalan berbatu-batu menuju kemakmuran dan kebebasan.

Demi kita, mereka mengemas harta milik mereka yang tak seberapa dan menyeberangi samudera untuk mencari kehidupan baru.

Demi kita, mereka banting-tulang dengan upah minim dan menetap di Pantai Barat, menahankan pukulan cambuk dan mencangkul tanah yang keras.

Demi kita, mereka bertempur dan mati, di tempat-tempat seperti Concord dan Gettysburg, Normandy dan Khe San.

Lelaki dan perempuan ini terus menerus berjuang dan berkorban dan bekerja hingga kulit tangan mereka mengelupas, agar kita bisa mengecap kehidupan yang lebih baik. Mereka melihat Amerika lebih besar dari jumlah ambisi kita secara perorangan, lebih besar daripada perbedaan status keluarga, atau kekayaan ataupun partai atau kelompok.

Perjalanan inilah yang kita teruskan hari ini. Kita masih merupakan negara paling makmur dan paling berpengaruh di Bumi. Para pekerja kita tidak kurang produktifnya dibandingkan dengan waktu ketika krisis ini dimulai. Otak kita masih seinventif seperti pada awal krisis ini, barang dan jasa kita masih diperlukan seperti pada minggu lalu atau bulan lalu, atau tahun lalu. Kapasitas kita tetap tak berkurang. Tetapi masa kita untuk berdiam diri, melindungi kepentingan sempit dan menunda keputusan-keputusan yang tak menyenangkan, sudah harus berlalu. Mulai hari ini, kita harus bangkit sendiri, membersihkan debu yang menempel, dan mulai lagi bekerja memperbaharui Amerika.

Karena kemana saja kita melihat, ada yang harus kita lakukan. Keadaan ekonomi mengharuskan tindakan yang berani dan segera, dan kita akan bertindak bukan hanya untuk menciptakan lapangan kerja baru, tetapi untuk meletakkan dasar bagi pertumbuhan. Kita akan membangun jalan dan jembatan, jaringan listrik dan jaringan digital yang menyuburkan perdagangan dan mengikat kita bersama. Kita akan memulihkan sains ke tempat yang selayaknya, dan menggunakan kehebatan teknologi untuk meningkatkan mutu perawatan kesehatan dan menurunkan biayanya. Kita akan memanfaatkan tenaga matahari, tenaga angin dan lainnya untuk menjalankan mobil-mobil dan pabrik-pabrik kita. Dan kita akan mengubah sekolah dan perguruan tinggi dan universitas untuk memenuhi tuntutan era baru. Semua ini bisa kita lakukan. Dan semua ini akan kita lakukan.

Tentu, ada orang yang meragukan skala ambisi kita – dengan mengatakan sistem ekonomi kita tidak bisa mentolerir terlalu banyak rencana besar. Daya ingat mereka tidak cukup lama. Mereka telah melupakan apa yang dilakukan Negara ini, apa yang bisa dicapai oleh laki-laki dan perempuan yang hidup bebas, apabila imajinasi digabung demi tujuan bersama, dan kebutuhan digabung dengan ketabahan.

Yang tidak dipahami oleh mereka yang sinis adalah tanah tempat mereka berpijak telah bergeser, bahwa argumen basi dalam politik yang telah begitu lama menyita waktu kita – tidak lagi berlaku. Pertanyaan yang kita ajukan sekarang bukan apakah pemerintah kita terlalu besar atau terlalu kecil, tetapi apakah pemerintah kita bisa berfungsi, apakah pemerintah bisa menolong para keluarga mencari pekerjaan dengan upah yang layak, asuransi kesehatan yang terjangkau, dan pensiun yang berarti.

Apabila jawabannya – ya, kita berniat untuk terus bergerak maju. Apabila jawabannya tidak, programnya akan dihentikan. Dan mereka yang mengatur uang rakyat akan dimintai pertangung-jawabannya – supaya mengeluarkan uang secara bijaksana, mengubah kebiasaan buruk, dan melakukan bisnis kita dengan jujur. Karena hanya dengan demikian kita bisa memulihkan kepercayaan penting antara rakyat dan pemerintah.

Kita juga tidak mempertanyakan apakah kekuatan pasar bebas itu baik atau buruk. Kekuatan pasar bisa membina kekayaan dan memperluas kebebasan kita. Tetapi krisis ini telah mengingatkan kita bahwa tanpa pengawasan yang ketat, kekuatan pasar bebas itu bisa terlepas dari kontrol, dan suatu bangsa tidak bisa makmur untuk waktu lama apabila hanya mementingkan orang kaya. Keberhasilan ekonomi kita tidak hanya tergantung pada besarnya Produk Domestik Bruto, tapi seberapa jauh meluasnya kemakmuran itu, pada kemampuan kita memberikan kesempatan kepada tiap orang yang mau bekerja, dan bukan karena belas kasihan karena itulah jalan yang paling pasti guna mencapai kemakmuran bersama.

Mengenai pertahanan kita bersama, kita menolak dan menganggap palsu pilihan antara keselamatan dan idaman atau cita-cita kita. Para Pendiri Negara ini dihadapkan pada bahaya yang tak terbayangkan, menyusun sebuah piagam untuk menjamin supremasi hukum dan hak setiap orang, sebuah piagam yang diperkuat oleh perjuangan generasi demi generasi. Semua cita-cita ini masih menerangi dunia, dan kita tidak akan meninggalkannya demi mencapai penyelesaian yang cepat. Karena itu, bagi semua orang dan pemerintahan yang menyaksikan pelantikan hari ini, mulai dari kota-kota yang termegah sampai ke desa kecil di mana ayah saya dilahirkan, ketahuilah bahwa Amerika adalah sahabat setia negara dan sahabat setiap lelaki, setiap perempuan, dan setiap anak yang menghendaki masa depan yang damai dan bermartabat, dan bahwa kita siap untuk memimpin lagi.

Ingatlah bahwa generasi-generasi sebelumnya menundukkan fasisme dan komunisme bukan hanya dengan misil dan tank, tetapi dengan aliansi yang kokoh dan keyakinan besar. Mereka memahami bahwa kekuatan saja tidak bisa melindungi kita, dan bahwa kekuatan itu tidak memberi kita hak berbuat sekehendak hati kita. Sebaliknya mereka tahu bahwa kekuatan kita tumbuh melalui penggunaan yang bijaksana, keamanan kita berasal dari adilnya tujuan kita, kekuatan contoh yang kita berikan, dan kerendahan hati serta kesanggupan menahan diri.

Kita adalah penjaga warisan ini. Dibimbing oleh prinsip-prinsip ini, sekali lagi kita bisa menghadapi ancaman-ancaman baru itu yang menuntut upaya lebih besar, bahkan kerja-sama dan pemahaman lebih besar antar-negara. Kita akan mulai secara bertanggung jawab meninggalkan Irak kepada bangsa Irak, dan menempa perdamaian di Afghanistan. Bersama teman-teman lama dan bekas saingan kita, Amerika akan bekerja tanpa lelah untuk mengurangi ancaman nuklir, dan mengurangi bahaya pemanasan bumi. Kita tidak akan minta maaf atas cara kehidupan Amerika, tidak akan goyah dalam mempertahankannya, dan bagi mereka yang hendak mendorong tujuan mereka dengan teror dan membantai orang-orang tak bersalah, kami katakan kepada mereka, semangat kita lebih kuat dan tidak terpatahkan, kalian tidak akan unggul dari kami, dan kalian akan kami kalahkan.

Kami sadar bahwa warisan bangsa yang beraneka warna adalah suatu kekuatan, dan bukannya sebuah kelemahan. Bangsa kita terdiri dari orang Kristen dan Islam, Yahudi dan Hindu, dan bahkan orang-orang yang tidak percaya pada Tuhan. Kita telah dibentuk oleh campuran berbagai bahasa dan kebudayaan, yang berasal dari segala pelosok dunia. Dan karena kita telah merasakan pahitnya perang saudara dan segregasi rasial, dan keluar dari masa kegelapan menjadi sebuah bangsa yang lebih kuat dan lebih bersatu, kita yakin bahwa pada suatu hari nanti semua rasa kebencian akan hilang, bahwa semua garis-garis pembatas antarsuku bangsa akan luluh, dan bahwa dunia ini akan menjadi semakin kecil. Kerendahan hati kita akan tampak dengan sendirinya, dan Amerika harus memainkan perannya dalam menyongsong era perdamaian yang baru.

Bagi dunia Muslim, kami akan mencari cara baru ke depan berdasarkan pada kepentingan bersama dan saling menghormati. Bagi para pemimpin dunia yang berusaha menanam bibit konflik, atau menyalahkan dunia Barat atas kesulitan-kesulitan yang dialami masyarakatnya, ketahuilah bahwa rakyat Anda akan menilai Anda pada apa yang Anda bangun, bukan pada apa yang Anda musnahkan. Bagi mereka yang hendak menggenggam kekuasaan melalui korupsi dan kekejian dan membungkam orang yang tidak setuju pada kebijakan mereka, yakinlah bahwa kalian berada pada sisi yang keliru, tapi kami akan mengulurkan tangan jika kalian tidak lagi mengepalkan tinju.

Bagi rakyat negara-negara miskin, kami berjanji akan bekerja bersama kalian untuk membuat ladang kalian subur dan membuat air bersih mengalir, untuk memberi makan tubuh yang kelaparan, dan memenuhi kebutuhan mental. Dan kepada negara-negara seperti negara kita yang relatif menikmati kemakmuran, kita tidak bisa lagi bersikap tidak peduli pada kesengsaraan di luar perbatasan kita, dan kita tidak bisa menghabiskan sumber-sumber dunia tanpa mempedulikan dampaknya. Karena dunia sudah berubah dan kita harus berubah dengannya.

Sambil kita mempertimbangkan jalan yang terbentang di depan kita, kita mengingat dengan rasa terima kasih orang-orang Amerika yang gagah berani, yang pada saat ini, berpatroli di gurun dan gunung yang sangat jauh. Ada sesuatu yang hendak mereka katakan pada kita hari ini, seperti yang dibisikkan sepanjang masa oleh para pahlawan kita yang kini dimakamkan di Arlington. Kita menghormati mereka bukan hanya karena mereka menjaga kebebasan kita tetapi karena mereka menunjukkan arti pengorbanan, kesediaan untuk mencari arti yang lebih besar dari diri mereka sendiri. Dan pada saat ini, saat yang akan tercatat dalam sejarah generasi – semangat inilah yang harus ada pada kita semua.

Sebanyak apapun yang bisa dan harus dilakukan pemerintah, pada akhirnya kepercayaan dan tekad rakyat Amerika-lah yang diandalkan negara ini. Misalnya kebaikan hati untuk menampung orang yang kena musibah walaupun tidak kita kenal, atau pekerja yang tanpa pamrih rela mengurangi jam kerja mereka daripada melihat seorang teman di-PHK, yang membuat kita keluar dari kegelapan. Adalah keberanian para pemadam kebakaran untuk menerobos masuk ke rumah yang penuh asap, dan juga kesediaan orang tua untuk membesarkan anak, yang kelak akan menentukan nasib kita.

Tantangan kita mungkin baru. Alat-alat yang kita gunakan untuk mengatasinya mungkin baru. Tetapi pada nilai-nilai itulah keberhasilan kita bergantung – yaitu kerja keras dan kejujuran, ketabahan dan berlaku secara adil, toleransi dan rasa ingin tahu, kesetiaan dan patriotisme – semua itu sudah lama ada. Semua itu memang benar. Semua itu telah menjadi kekuatan kemajuan sepanjang sejarah. Jadi yang dituntut sekarang adalah kembalinya kepada nilai-nilai ini. Apa yang diperlukan dari kita sekarang ini adalah era pertanggungjawaban yang baru – suatu pengakuan, dari tiap orang Amerika, bahwa kita mempunyai kewajiban bagi diri kita sendiri, bagi negara kita dan bagi dunia, kewajiban yang kita lakukan dengan senang hati, bukan dengan bersungut-sungut, karena kita tahu tidak ada yang lebih memuaskan bagi jiwa kita, yang merupakan definisi karakter kita, daripada memberikan segalanya untuk menyelesaikan tugas yang sulit.

Inilah pengorbanan dan janji kewarganegaraan.

Inilah yang menjadi sumber keyakinan kita – pengetahuan bahwa Tuhan meminta kita untuk memperbaiki keadaan yang tidak pasti.

Inilah arti kebebasan dan kepercayaan kita– mengapa laki-laki dan perempuan dan anak-anak dari tiap ras dan tiap keyakinan bisa ikut dalam perayaan di lapangan yang indah ini, dan mengapa seorang lelaki yang ayahnya lebih 60 tahun lalu mungkin tidak dilayani di restoran, sekarang bisa berdiri di depan Anda untuk diambil sumpahnya sebagai presiden.

Jadi marilah kita hari ini mengenang siapa kita dan sejauh mana jalan yang kita tempuh. Pada tahun kelahiran Amerika, pada bulan yang terdingin, sekelompok patriot berkumpul di depan api unggun yang mulai padam di bantaran sungai yang beku. Ibu kota telah ditinggalkan, musuh terus maju, salju tampak berlumuran darah. Pada saat itu, ketika nasib revolusi kita sangat diragukan, bapak bangsa kita memerintahkan supaya kalimat berikut dibacakan kepada semua rakyat Amerika:

“Beritahukanlah pada dunia masa depan, bahwa di tengah musim dingin, saat apa pun tiada kecuali harapan dan kebajikan – bahwa kota dan negara, waspada akan bahaya bersama, akhirnya bersatu untuk menghadapinya.”

Amerika; Dalam menghadapi musuh bersama, dalam masa sulit kita ini, mari kita ingat kata-kata emas itu. Dengan harapan dan kebajikan, mari kita hadapi bersama sekali lagi sungai beku ini, dan bertahan dari badai apapun yang akan tiba. Biarkan cucu-cucu kita berkata bahwa kita telah diuji dan kita menolak untuk mengakhiri perjalanan ini, bahwa kita tidak mundur dan mata kita terpaku ke ufuk fajar dan dengan berkat Tuhan, kita meneruskan anugerah kebebasan dan mengantarkannya dengan selamat bagi generasi masa depan.

Terima kasih.





Perjalanan Obama dari Gedung Putih ke Capitol Hill




Pembacaan Sumpah dan Pidato Pertama Barack Obama




Dan, George Bush pun Meninggalkan Washington




Prosesi Perjalanan dari Capitol Hill Menuju Gedung Putih




Parade di depan Gedung Putih




Masyarakat di Luar Amerika Ikut Merayakan




Harapan untuk Obama dari Anak-anak di Seluruh Dunia



Galeri Foto

George Bush, Barack Obama, George Walker Bush, Bill Clinton, dan Jimmy Carter di Ruang Oval, Gedung Putih, sebelum mengikuti acara pelantikan.


Pada saat bersamaan, jutaan pasang mata sudah menunggu kedatangan calon pemimpin mudanya sejak pagi.


Presiden AS Terpilih beserta istri tiba di Capitol Hill.


Obama membacakan sumpah, sedikit kepeleset, tapi siapa yang peduli, Obama gitu loh...


Alkitab ini terakhir kali digunakan saat pengambilan sumpah Presiden Abraham Lincoln, 147 tahun silam.


Hadirin berdiri saat pembacaan sumpah.


Obama dan keluarga usai pembacaan sumpah.


Ciuman untuk sang First Lady.


Senyum kebahagiaan pasangan pemimpin baru AS.


Michelle Obama dan Jill Biden, dua wanita pendamping pria paling berpengaruh di dunia saat ini.


Diperkirakan sekitar 3,5 juta simpatisan memenuhi National Mall di depan Capitol Hill, Ayu Azhari dimana yah?


Sorak-sorai usai Obama berpidato untuk pertama kalinya sebagai Presiden AS.


Obama menandatangani tiga dokumen di Capitol Hill, tentu saja dengan tangan kiri.


Ada yang datang, ada yang (harus) pergi, hiks....


Marine One sudah menunggu untuk membawa pasangan Bush-Laura ke Bandara Andrews.


"Udah deh, Irak dan Gaza biar ane yang ngurus sekarang, ente main kuda aja di Texas yeee," bisik Obama ke Bush.


"Selamat ya Obama, kalau berhasil nangkep Osama bin Laden jangan lupa sampaikan salam saya," ujar Bush sebelum masuk ke Marine One.


Nyaris tak ada air mata yang melepas kepergian Bush dari Washington.


Bahkan, sejatinya helikopter ini terbang tanpa sebutan Marine One karena tak sedang membawa orang nomor satu di AS.


Rombongan Obama berparade dari Capitol Hill menuju Gedung Putih.


Kemeriahan sangat terasa di sepanjang Pennsylvania Avenue, kalau di Jakarta seperti Jalan Medan Merdeka kali ya.


Di tengah perjalanan, Obama dan Michelle memutuskan untuk berjalan kaki.


Agaknya, presiden ini tak mau jauh-jauh dan bersembunyi dari konstituennya, secara (cieee) fansnya banyak menunggu di pinggir jalan.


Gak kebayang kalau di masa lalu pria ini pernah manjat pohon di Menteng.


Karena Renegade (kata sandi untuk Obama) dan Renaissance (kata sandi untuk Michelle) berada di ruang terbuka, agen-agen Secret Service harus lebih waspada.


Tegukan sampanye pertama Obama di Gedung Putih sebagai Presiden AS.



Yang Ikut Bergembira di Luar AS

Baghdad, Irak


Baghdad, Irak


Budapest, Hungaria


Istanbul, Turki


Jakarta, Indonesia


Kabul, Afghanistan


Kisumu, Kenya


Kutub Selatan


London, Inggris


Nairobi, Kenya


Obama, Jepang


Paris, Prancis



Yang Berubah dari Obama

Dimana pun berada, agen Secret Service selalu menyertai.


Kadang, Obama mengajak mereka bercanda.


Dalam suasana santai, mereka tetap siaga.


Dua pengawal lapangan sang presiden.


Sejak menjadi salah satu calon presiden Partai Demokrat yang bersaing dengan Hillary Clinton, rumah Obama di Chicago sudah dijaga agen SS.


Pasukan pengawal Obama tak ubahnya satu kompi pasukan.


Dalam kondisi statis atau bergerak, kewaspadaan tak boleh hilang.


Sasha bercanda dengan dua agen SS pengawal pribadinya yang telah dilatih untuk tak mudah tersenyum.


Mereka ada di sekeliling Obama dalam kesempatan apa pun.


Dengan pengawal bertubuh besar seperti ini, adakah yang berani macam-macam?



Obama is Family Man



























Senin, 12 Januari 2009

Duel Nixon-Frost yang Menggetarkan

Rinaldo


Tak ada Presiden Amerika Serikat yang bisa mengalahkan pamor Richard Milhous Nixon, jika diukur dari kontroversi yang ditimbulkannya. Tidak oleh Kennedy yang tewas terbunuh, tidak oleh Reagan dengan Irangate-nya, atau oleh George Bush yang salah analisis saat menyerang Irak. Tidak heran kisah di balik kehidupannya paling banyak diangkat ke layar lebar dengan memasang aktor papan atas dan meraih sukses serta mendapat pujian dari para kritikus film.

Film pertama tentulah All the President Men (1976) yang dibintangi dua aktor papan atas Dustin Hoffman yang berperan sebagai Carl Bernstein dan Robert Redford sebagai Bob Woodward. Tak banyak wajah Nixon muncul di film ini, karena fokus cerita lebih kepada upaya dua wartawan The Washington Post, Bernstein dan Woodward, membongkar skandal terbesar dalam sejarah kepresidenan Amerika Serikat, Watergate. Dua wartawan ini yang membuat Nixon mencatat sejarah sebagai presiden AS satu-satunya yang mengundurkan diri di tengah masa jabatannya.

Film kedua adalah Nixon (1995), yang bercerita tentang masa muda Nixon hingga menduduki Gedung Putih dan meninggalkan singgasana dengan muka tertunduk. Peran Nixon diserahkan kepada Anthony Hopkins yang bermain cemerlang di film ini. Kalau All the President Men meraih empat Piala Oscar, Nixon hanya meraih empat nominasi. Namun, secara keseluruhan film ini mendapat pujian.

Film ketiga adalah The Assassination of Richard Nixon (2004), bercerita tentang rencana pembunuhan Nixon di tahun 1974 oleh Samuel Joseph Byck. Peran sebagai pembunuh diserahkan kepada Sean Penn. Sama dengan dua film sebelumnya, di beberapa situs film mancanegara ketiga film ini rata-rata diberi nilai 8 dari skala 1-10.

Agaknya, Nixon masih meninggalkan warisan yang mengguncang publik dunia. Buktinya, Desember 2008 kembali muncul sebuah film berjudul Frost/Nixon. Tak jelas, apakah ada unsur kebetulan atau memang waktu rilisnya disengaja. Yang jelas, pada 19 Desember 2008, mantan Wakil Direktur Federal Bureau of Investigation, W. Mark Felt, meninggal dunia.

Nama ini memang kurang dikenal pada awalnya. Namun, pada 30 Mei 2005, dunia kaget ketika dia mengaku sebagai Deep Throat, nama alias bagi si pembocor rahasia Watergate. Pengungkapan ini mengagetkan Woodward, karena dia kukuh memegang janji tidak akan mengungkapkan jati diri Felt sampai ia meninggal dunia. Tak hanya itu, Woodward juga merasa bersalah karena tak memperkenalkan Felt ke rekan kerjanya, Bernstein, hingga 36 tahun setelah mereka berhasil memecahkan skandal itu. Ketiganya kemudian bertemu sebulan setelah pengungkapan jati diri itu.

Terlepas dari hal itu, Frost/Nixon adalah film yang menarik, mengguncang, dan mencerahkan, dan layak ditonton siapa saja, khususnya para pemimpin agar tak salah langkah. Film ini (lagi-lagi) diangkat dari kisah nyata yang terjadi pada musim panas tahun 1977, tiga tahun setelah Nixon hengkang dari Gedung Putih. Adalah David Frost (diperankan Michael Sheen), jurnalis Inggris yang berusaha mendapat kesempatan untuk mewawancarai Nixon (diperankan Frank Langella) di depan televisi. Melalui perjuangan berat serta rayuan uang segudang, Nixon pun setuju diwawancarai.

Agar wawancara lebih tajam dan fokus, Frost menugaskan dua bawahannya, Bob Zelnick (diperankan Oliver Platt) dan James Reston (diperankan Sam Rockwell), untuk menggali informasi lebih dalam tentang skandal Watergate. Sayang, pada wawancara pertama hingga ketiga, Frost kalah telak. Ia tak berhasil menggali keterlibatan Nixon dalam skandal itu. Nixon pun pulang dari wawancara dengan kepala tegak dan melambaikan tangan sambil tersenyum kepada khalayak di luar gedung.

Menjelang wawancara kali keempat atau hari terakhir, Frost mendapat telepon dari Nixon yang sedang mabuk. Ia mengatakan, bila Frost tak mampu mengungkap keterlibatan dirinya dalam skandal Watergate, wartawan itu (Bernstein dan Woodward) harus membersihkan nama baiknya. Kontan saja Frost kembali bersemangat untuk mencari "amunisi" guna menaklukkan sang mantan presiden.

Benar saja, pada wawancara terakhir itu Nixon menjadi gelapan, emosional, dan berkeringat dingin dicecar pertanyaan tajam oleh Frost dari hasil investigasi yang dia lakukan. Bahkan, wawancara sempat dihentikan Jack Brennan (diperankan Kevin Bacon), ajudan khusus Nixon, karena bosnya terdesak. Namun, Nixon tak bisa lagi mengelak dan bendera putih pun dikibarkan. Dengan nada terbata, Nixon mengakui semua kesalahan dan penyesalannya.

Sungguh menggugah menyaksikan Nixon dengan nada putus asa berkata kepada Frost, "I let them down. I let down my friends. I let down the country. Worst of all, I let down our system of government and the dreams of all those young people that ough to get into government but now think it's too corrupt. I let the American people down, and I have to carry that burden with me for the rest of my life. My political life is over."

Usai wawancara suasana langsung berubah. Anggota tim Frost yang ada di ruangan bersorak tanda kemenangan. Sebaliknya, orang-orang Nixon hanya diam. Kali pertama Nixon keluar tempat wawancara dengan kepala tertunduk dan tanpa melambaikan tangan kepada khalayak yang menunggunya di luar lokasi wawancara.

Tak ada keraguan bahwa film ini adalah salah satu film terbaik tentang Nixon. Ron Howard yang sebelumnya sudah dikenal saat membesut The Da Vinci Code, Cinderella Man, A Beautiful Mind, Apollo 13, dan Far and Away, layak berbangga atas pencapaiannya kali ini. Tak sia-sia dia bersaing dengan Martin Scorsese, Mike Nichols, George Clooney, dan Sam Mendes memperebutkan skenario film ini. Tak sia-sia pula Ron ngotot menggunakan rumah Nixon asli dan kamar hotel tempat Frost dulu menginap untuk seting film ini.

Frost/Nixon sendiri diadaptasi dari drama teater ciptaan Peter Morgan, yang juga menjadi penulis naskah film ini. Reputasi Peter sebagai penulis naskah sudah tidak perlu diragukan lagi. The Other Boleyn Girl, The Last King of Scotland, dan The Queen adalah beberapa judul film yang naskahnya terlahir dari kedua tangannya.

Sayang, film ini agaknya tak akan menghiasi layar bioskop di Indonesia karena menjauh dari mainstream selera penonton kita. Padahal, film ini punya nilai penting untuk pembelajaran politik serta jurnalistik. Tak jauh berbeda dengan All the President Men yang mencuatkan kegigihan dua wartawan mengungkap kabut gelap sebuah konspirasi politik, Frost/Nixon juga sarat pelajaran bagi para jurnalis. Betapa ketersediaan data dan investigasi sangat diperlukan sebelum mengupas sebuah masalah.

Saya sudah empat kali menonton film ini, dan tetap saja terpukau dengan adegan wawancara Nixon dan Frost. Nixon ternyata masih saja menggetarkan, bahkan ketika dia tampil melalui sosok Frank Langella. Sayang, ajang Golden Globe yang berlangsung Minggu, 11 Januari kemarin, tak satu pun memunculkan film ini sebagai pemenang dari lima nominasi yang diraihnya. Slumdog Millionaire, film satire dari India telah merajai Golden Globe tahun ini. Mungkin Frost/Nixon lebih beruntung di ajang Oscar. Kita tunggu saja.



Frost/Nixon trailer




Cuplikan wawancara David Frost dan Richard Nixon tahun 1977 (1)




Cuplikan wawancara David Frost dan Richard Nixon tahun 1977 (2)




Lima menit sebelum Nixon membacakan pidato pengunduran diri, 8 Agustus 1974 di Gedung Putih




Petikan pidato pengunduran diri Nixon, 8 Agustus 1974 di Gedung Putih




All the President Men (1976) trailer




Nixon (1995) trailer




The Assassination of Richard Nixon (2004) trailer





Jumat, 02 Januari 2009

Bermalam Tahun Baru di "Puncak"

Pernahkah terbayangkan bahwa tidak semua orang bisa merayakan malam tahun baru dengan sesuatu yang spesial? Bahkan, tidak sedikit di antara kita yang melewatkan momen tahunan itu dengan tetap mengerjakan rutinitas. Misalnya sopir taksi, polisi lalu lintas, pedagang bakso, penjual terompet, satpam, dan kru Liputan 6 SCTV tentunya.

Begitulah, Rabu malam silam sungguh nelangsa rasanya. Ketika masyarakat tumpah ruah di Ancol, Monas, Taman Mini, dan Bunderan HI, Newsroom di lantai 9 SCTV Tower terasa begitu sepi. Ketika kembang api satu per satu mulai menghiasi langit Jakarta, kami hanya bisa menatap dari balik kaca. "Ini risiko pekerjaan," ujar Rio, cowok dari bagian grafis yang batal merayakan malam tahun baru bersama keluarganya di Papua sana, mencoba maklum.

Kesepian itu hanya diisi dengan obrolan ala kadarnya dari beberapa teman. Topik yang dibicarakan pun melebar ke mana-mana. Mulai dari isu bonus tahunan yang segera dibagikan hingga tarif angkot yang tak kunjung turun mengikuti kecenderungan harga BBM. Untuk mengisi kesepian pula, beberapa teman main game catur di komputer. Nyaris, tak ada kemeriahan di kantor ini. Tak ada terompet, kembang api, apalagi donat J.Co dan kopi Starbucks.

Ketika tengah malam semakin mendekat, kembang api pun semakin meriah. Sambil menatap kemeriahan itu dari balik kaca Newsroom, beberapa teman tiba-tiba punya gagasan yang agaknya sulit untuk diwujudkan. "Kita juga harus bisa merayakan malam tahun baru di puncak," tegas Yani, yang sedih bukan main meninggalkan sang istri sendirian di rumah karena harus tetap masuk kantor.

Kontan saja teman-teman lainnya menatap heran. Bagaimana pula caranya berangkat ke puncak menjelang tengah malam, dengan segala kemacetan dan tugas yang masih menumpuk? Bisa-bisa baru sampai di kolong Semanggi, tahun 2008 sudah lewat. Ternyata, yang dimaksud Yani bukan Puncak di Bogor sana, melainkan puncak gedung SCTV Tower. Sebuah ide brilyan!

Setelah mengontak beberapa teman di lantai lainnya, jadilah disepakati untuk "mendaki" ke puncak. Baru menapakkan kaki di lantai 25 (kalau lantai teratas ini tetap ingin dihitung), kemeriahan langsung terlihat. Kembang api di empat penjuru Ibu Kota jelas begitu memukau. Langit Jakarta betul-betul terang malam itu. "Persis seperti di Jalur Gaza," komentar Akung, program director Liputan 6, berlagak sok tahu.

Mungkin karena suara yang terlalu berisik, agaknya keberadaan kami diduga sebagai sekumpulan preman yang tengah gencar diberantas Kapolri baru. Dampaknya, beberapa petugas keamanan gedung menggebrak naik dengan senjata lengkap, persis seperti aksi polisi yang kerap terlihat di program Buser. Setelah melihat wajah-wajah kami yang sangat familiar, tidak sombong dan baik hati, barulah mereka sadar kalau ini hanya perayaan kecil-kecilan dari para karyawan yang putus asa karena tak bisa menceburkan diri di air mancur Bunderan HI pada malam tahun baru. Dan semuanya kemudian membaur di ketinggian SCTV Tower.

Sayang, karena tak direncanakan, momen itu hanya diabadikan dengan kamera digital murahan, sehingga tak mampu menangkap keindahan kembang api yang kami saksikan. Bahkan, karena kurang perencanaan itu pula, tanggal penanda pada kamera lupa diset ulang sehingga yang muncul tahun baru 2005. Meski demikian, kegembiraan tak berkurang.

Bukankah kegembiraan "semalam di puncak" ini tak sebanding dengan simbol-simbol itu, karena kebersamaan yang tercipta lebih dari segalanya. Jadi, nikmati saja kegembiraan kami yang tetap ngantor di malam tahun baru melalui serangkain foto-foto bermutu rendah, namun bermakna dalam ini. Akhirnya, Selamat Tahun Baru 2009, kawan!



[untuk memperbesar gambar silahkah di-klik]


Rabu malam, 31 Desember 2008, nan sepi.


Newsroom ditinggalkan penghuninya yang tengah meliput di sejumlah titik keramaian Ibu Kota.


Segelintir karyawan terlihat tetap bersiaga di meja kerja.


Namun, wajah mereka terlihat kusut dan nyaris seperti putus asa.


Tak ada tawa dan canda seperti biasa, semuanya sibuk dengan urusan masing-masing.


Dan, semuanya berubah setelah tiba di lantai teratas SCTV Tower.


Bahkan, Bogi si empunya mini market yang paling antifoto, di tahun baru ini jadi suka berakting di depan kamera, meski dari sisi estetika sulit untuk menilainya.


Meski batal bertahun baru di Papua bareng keluarganya, ketawa Rio paling nyaring menyambut Tahun Baru 2009.


Ika menjadi yang paling cantik malam itu karena hadir tanpa saingan.


Kang Yani yang sempat-sempatnya menelepon sang istri di Bogor, "Lagi lihat kembang api nih, Mah...," ujarnya mesra.


Sayang, indahnya panorama kembang api tak terlihat di foto. Agaknya kamera keluaran 2008 tak layak pakai lagi di tahun 2009. Selain itu, latar belakang juga ketutupan oleh tubuh jangkung Jamal, yang menjadi komandan pasukan lantai 18.


"Tahun baru harga Beng-Beng dan Pop Mie naik ya," bisik Bogi kepada Bungap yang menjadi pelanggan setia gerai Bogimart.


Ini lagi kasting untuk iklan pasta gigi, yang mingkem berarti ada masalah dengan giginya.


"Tahun 2009 adalah tahun bagi kepemimpinan kaum muda. Obama rules...," ujar Rio mewakili trio muda dari bagian grafis. Bakal ada kudeta kayanya nih!


Karyawan dari berbagai divisi dan lantai, tampil sejajar dalam kebersamaan.


Rombongan petugas sekuriti yang datang belakangan ikut bergabung.


"Saya siap dikirim menjadi sukarelawan ke Palangkaraya," ujar salah seorang petugas. Mungkin maksudnya Palestina kali ya...


Meski cita-citanya menjadi anggota TKR gagal di tengah jalan, Akung sudah cukup senang memegang senjata laras panjang betulan.


Salut dengan disiplin personel sekuriti SCTV, tengah malam pun ID card tetap bertengger di saku. Tabik!


Akhirnya, fotografer sekaligus si empunya blog ini dapat kesempatan juga berfoto. Terima kasih, terima kasih....


Di siang hari, panorama seperti ini yang akan terlihat dari lantai tertinggi SCTV Tower.


Mal Senayan Trade Center ternyata gak tinggi-tinggi amat tuh...


Bahkan, tenda putih yang menjadi salah satu tempat nongkrong kami, nyaris tak terlihat.


Plaza Senayan pun terlihat lebih megah jika dikeker dari atas.


Ada kolam renang, lapangan tenis, dan sawung tempat bersantai di bawah sana. Sayang, itu bukan properti SCTV.


Mobil-mobil bersileweran di pelataran pintu utama Mal Senayan City, termasuk sebuah Ferrari F-30 berwarna merah.


Rebeca berfoto dengan latar belakang lapangan golf Patal Senayan dan Hotel Mulia di kejauhan.


Ini pasti akting, biar dikira gak sadar kamera, jadi pura-pura lagi ngobrol, basi bangeett deh!


Air mancur Bunderan Senayan di kejauhan yang kalah bersaing dengan air mancur Bunderan HI.


Jakarta, kota yang dipenuhi gedung pencakar langit benar-benar telah menjadi hutan beton. Tak bisa lagi mandi di kali, tak ada lapangan sepakbola, tak ada taman bermain. Ruangan terbuka sudah digantikan mal, perkantoran, mal lagi, perkantoran lagi, kemudian mal lagi, disusul perkantoran lagi, dan begitu seterusnya...





Selasa, 23 Desember 2008

Belajar Memborgol dari Miranda

Rinaldo


Penggemar film-film aksi Hollywood pasti akrab dengan adegan penangkapan pelaku kejahatan oleh polisi. Biasanya, seorang polisi akan menyuruh tersangka mengangkat tangan sambil membalikkan badan. Pada saat memborgol tangan tersangka, akan meluncur sebuah kalimat panjang dari si polisi. Siapa pun polisinya, selagi masih di Amerika Serikat, pasti kalimatnya sama.

Kalimat itu berbunyi: You have the right to remain silent. Anything you say can and will be used against you in a court of law. You have the right to speak to an attorney, and to have an attorney present during any questioning. If you cannot afford a lawyer, one will be provided for you at government expense.

Jika diindonesiakan, kalimat itu akan menjadi: Anda berhak untuk tetap diam. Apa pun yang Anda katakan bisa dan akan digunakan (sebagai bukti) terhadap Anda di pengadilan. Anda berhak untuk menunjuk pengacara yang hadir saat diperiksa. Jika Anda tidak mampu menghadirkannya, seorang pengacara akan ditunjuk untuk Anda.

Ya kalimat itu adalah Miranda Warning (Peringatan Miranda), sebuah sistem yang diciptakan untuk melindungi hak-hak tersangka serta mencegah kesewenang-wenangan penyidik terhadap tersangka. Dalam kalimat itu terkandung makna bahwa seorang tersangka berhak untuk diam selama pemeriksaan, menolak menjawab pertanyaan jika dirasa menjebak, tidak mendapat perlakuan kasar, dan selama pemeriksaan selalu didampingi pengacara.

Tidak sampai di situ, pada 2004 lalu Mahkamah Agung AS memutuskan bahwa polisi harus mengeluarkan peringatan dulu sebelum mengajukan pertanyaan kepada seseorang yang diduga melakukan kejahatan. Artinya, kewenangan polisi untuk memeriksa seorang tersangka lebih diperketat. Bagi sistem hukum di AS, hal ini terbilang wajar karena pembuktian di pengadilan lebih mengutamakan alat bukti ketimbang keterangan saksi.

Miranda Warning atau kerap juga disebut Miranda Right dan Miranda Rules lahir merujuk pada nama Arturo Ernesto Miranda, pria yang pada 1963 masih berusia 23 tahun. Miranda ditangkap sebagai tersangka penculikan dan pemerkosaan remaja di Phoenix Arizona. Setelah diinterogasi penyidik sekitar dua jam, Miranda akhirnya mengaku sebagai pelaku. Ia menandatangani BAP. Pada bagian akhir BAP tertulis bahwa Miranda menjawab secara sukarela, tanpa paksaan, dan paham akan hak-hak hukumnya. Di pengadilan Arizona, Miranda terancam hukuman 20 tahun penjara. Ia banding.

Kasus Miranda versus Arizona itu akhirnya bergulir ke MA. Pada 1966, MA memutus perkara ini dengan suara 5 berbanding 4. Mayoritas hakim berpendapat pengakuan Miranda diberikan ketika hak-haknya tidak dalam perlindungan. Selain itu, saat pemeriksaan Miranda tidak didampingi pengacara. Miranda kemudian disidang ulang dan didakwa dengan bukti-bukti baru. Dia divonis 11 tahun penjara dan dibebaskan bersyarat pada 1972.

Keluar penjara, Miranda justru tewas dalam perkelahian bersenjata pisau. Ironisnya, kepada tersangka penusuk, polisi membacakan Peringatan Miranda. Lebih ironis lagi, di saku Miranda ditemukan kertas-kertas seukuran kartu nama berisi Peringatan Miranda! Walaupun Miranda mati secara mengenaskan di sebuah bar, putusan kasusnya dianggap sebagai salah satu tonggak sejarah dalam sistem peradilan AS.

Di Indonesia, acuan semacam Miranda Warning tidak ada. Perlindungan terhadap hak tersangka dan bantuan hukum hanya ditemukan pada Pasal 54 Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana. Disebutkan, tersangka atau terdakwa berhak mendapat bantuan hukum di setiap tingkat pemeriksaan guna kepentingan pembelaan dirinya. Kalau ditahan penyidik, seseorang dapat menghubungi penasihat hukum. Kalau tak mampu, negara bisa menyediakan.

Sayang, ketentuan ini jarang dipenuhi. Kerap ditemukan seorang tersangka yang melakukan tindak pidana dengan ancaman di atas lima tahun, diperiksa tanpa didampingi penasihat hukum. Masalah lainnya, kurangnya pengetahuan masyarakat akan hak-hak mereka di depan hukum, sehingga hal itu dianggap biasa.

Ada dua hal yang kemungkinan bisa terjadi jika ketentuan ini tak dipenuhi aparat penegak hukum. Pertama, besar kemungkinan tersangka yang tertekan atau ditekan karena diperiksa tanpa penasihat hukum akan memberi pengakuan sesuai keinginan polisi atau jaksa. Jika ini terjadi dan tersangka kemudia dihukum, berarti telah terjadi peradilan sesat. Sejarah hukum di Indonesia mencatat nama-nama Sengkon dan Karta, Paeran dan Ponirin, Taliso Goa, dan terakhir trio Kemat, David dan Sugik, yang menjadi korban peradilan sesat.

Kedua, jika dalam pemeriksaan di pengadilan diketahui terdakwa tidak mendapatkan hak-haknya selama penyidikan, bukan tak mungkin terdakwa akan lolos dari jerat hukum. Salah satu yurisprudensi terkait hal ini adalah putusan No.367 K/Pid/1998.

Register perkara ini merujuk pada kasus pembunuhan sadis La Makka, warga Dusun Tanatemparee, Palippu, Wajo, Sulawesi Selatan. Diduga pelakunya adalah La Noki bin La Kede, warga setempat yang tak lain adalah saudara kandung korban. Pengadilan Negeri Wajo menghukum terdakwa 12 tahun penjara lantaran terbukti melakukan pembunuhan berencana (Pasal 340 KUHP). Lantaran dihukum lebih berat dari tuntutan jaksa, terdakwa La Noki mengajukan banding. Namun, Pengadilan Tinggi Ujung Pandang menguatkan hukuman semula, bahkan memerintahkan terdakwa tetap dalam tahanan.

Nasib La Noki berubah seratus delapan puluh derajat di tingkat kasasi. Majelis hakim agung yang beranggotakan H. Kahardiman, H. Tjung Abdul Muthalib, dan H. Achmad Kowi membatalkan putusan banding. Permohonan kasasi jaksa dinyatakan tidak dapat diterima. Hakim memerintahkan La Noki segera dibebaskan dari tahanan.

Dalam pertimbangannya, majelis hakim agung menyitir fakta yang terungkap bahwa selama tiga kali penyidikan di kepolisian dan satu kali di kejaksaan, terdakwa tak pernah didampingi penasihat hukum. Walaupun di pengadilan La Noki didampingi pengacara, hakim agung menilai ada kesalahan dalam penyidikan. Tersangka yang tidak didampingi penasihat hukum selama penyidikan, dinilai majelis bertentangan dengan Pasal 56 KUHAP, sehingga Berita Acara Penyidik dan Penuntut Umum batal demi hukum.

Seandainya sejak awal seorang tersangka sudah diberitahu tentang hak-hak yang dimilikinya, tentu semua itu tak akan terjadi. Sayang, kita tak pernah belajar dari kesalahan. Alih-alih untuk belajar, kesalahan demi kesalahan yang terus dilakukan tak kunjung membuat kita sadar, bahwa urusan hukum adalah persoalan hidup dan mati seseorang.

Setiap kali akan memeriksa seorang tersangka, sejatinya seorang polisi mengingat nasib Sengkon dan Karta. Setiap kali akan menulis BAP, tak ada salahnya penyidik merasakan penderitaan Paeran dan Ponirin. Tatkala menyidik seorang tersangka, alangkah bijaknya jika jaksa menjadikan kesalahan penanganan kasus pembunuhan Asrori sebagai pegangan. Ironisnya, aparat penegak hukum kita lebih suka mencari kepuasan dengan mempermainkan hidup seseorang ketimbang memenuhi hak-haknya selaku manusia.




Sejarah Miranda Warning (1)




Sejarah Miranda Warning (2)




Penjelasan tentang Miranda Warning




Kampanye bagi hak-hak tersangka



Rabu, 03 Desember 2008

Funtwo, Canon, dan YouTube

Pria berkacamata itu duduk di antara meja dan ranjang di kamar tidurnya. Di tangannya ada sebuah gitar listrik. Topi bisbol yang dipakainya tak bisa menutupi sosoknya yang masih muda. Intro lagu klasik era barok bertajuk Canon in D Mayor kemudian terdengar. Berbarengan dengan itu, jari-jari si pemuda gesit menggerayangi seluruh leher gitar. Raungan gitar ala rockers lantas menyerbu Canon yang klasik. Canon yang biasanya diperdengarkan dalam upacara pernikahan di gereja itu mendadak sontak berubah menjadi lagu rock.

Tayangan itu hanya berlangsung 5 menit 20 detik. Tapi, waktu sesingkat itu sudah cukup membuat penontonnya di kanal YouTube kaget dan penasaran. Pemuda yang menamakan dirinya Funtwo itu kemudian menjadi terkenal. Bayangkan, dalam tempo enam bulan, hampir 9 juta kali videonya diklik. Dan saat ini, memasuki tahun ketiga video itu dipublikasikan, tercatat hampir 53 juta kali video itu ditonton. Maka, sosok misterius yang selalu menyembunyikan wajahnya itu pun mulai dicari identitasnya dan mendadak menjadi selebritis.

Adalah koran terkemuka di Amerika Serikat, The New York Times, yang kemudian berusaha melacak keberadaan Funtwo yang dijuluki sebagai Most Watched Videos of All Time itu. Investigasi itu tak sia-sia. Koran itu mendapat hasilnya, Funtwo adalah pemuda Korea Selatan bernama asli Lim Jeong-Hyun, berusia 23 tahun.

Lim mengaku sejak videonya tampil di YouTube banyak yang mencoba menghubungi. "Telepon dan email datang tak pernah berhenti," ujarnya saat diwawancarai Reuters. Sejak itu pula dia mulai rutin didatangi berbagai media untuk keperluan wawancara, termasuk CNN. Tapi, Lim tetap rendah hati. "Saya terkenal bukan karena permainan gitar, tapi karena aransemen lagu Canon-nya Pachelbel yang diaransemen ulang oleh Jerry Chang yang sebelumnya sudah sangat populer," jelasnya.

Lim benar sekali. Canon in D Mayor adalah gubahan Johann Pachelbel, komposer kelahiran 1 September 1653 di Nuremberg, Jerman. Pachelbel merupakan maestro dari masa Barouque. Canon yang dibuka dengan cello atau bass, biola dan harpa dengan total 28 variasi komposisi memang sudah lebih dulu terkenal. Gubahan ini diakui sebagai salah satu karya masterpiece di dunia musik. Tak heran jika kemudian gubahan ini kerap diaransemen ulang grup musik lain.

Namun, yang sangat luar biasa tentulah aransemen Canon Rock oleh Jerry C, musisi dan aranjer kelahiran Taiwan 31 Agustus 1981 dan bernama lengkap Jerry Chang. Ia menggubah Canon in D Mayor menjadi progresif rock. Hasil karyanya dipamerkan melalui website pribadinya. Dari tablature di website inilah, seorang musisi misterius yang menyebut dirinya Funtwo memainkan aransemen JerryC dan ditampilkan di YouTube.

Kendati Jerry yang menggubahnya, permainan gitar Funtwo lebih dikenal saat membawakan Canon Rock. Di tangannya, Canon Rock berubah sangat liar, namun harmonisasi tetap terjaga dan nada yang dihasilkan sangat bersih. Funtwo menggabungkan semua tehnik gitar sweep-picking, bendding, partikular harmonik, harmonisasi suara satu, dua, tiga pada gitar, serta distorsi disajikan super cepat, menjelajah kesemua grip gitar.

Di pertengahan musik ia memasukkan beat Hip-Hop, sementara pada versi klasiknya menggunakan harpa. Pemilihan suara dan efek juga sangat membuat yang mendengar tidak bosan apalagi pada nada ”outside” nya. Bahkan, Funtwo tidak kehilangan satu nada pun dari versi aslinya. Tak heran, The New York Times menjuluki Funtwo sebagai The New Jimmy Hendrix.





Video Canon Rock dari Funtwo yang menggetarkan itu





Penampilan Funtwo di kediaman Dubes Korsel di Washington





Tampil bareng dengan Joe Satriani dalam YouTube Live





Jerry Chang, si penggubah Canon Rock di kamar butut





Canon in D Mayor versi asli Johann Pachelbel


Minggu, 09 November 2008

Teks Pidato Kemenangan Obama

[Berikut adalah terjemahan oleh Arya Nasoetion dari pidato Senator Barack Obama di Grant Park, Chicago, Illinois, setelah memenangkan Pemilihan Presiden AS pada Selasa 4 November 2008. Obama terpilih menjadi Presiden AS ke-44, juga menjadi orang Afro-Amerika pertama dalam sejarah AS yang menempati posisi puncak dengan cepat dari seorang senator ke Gedung Putih. Mendengar serta membaca pidato Obama, tak heran jika banyak warga AS, bahkan warga dunia, menitikkan air mata. Sebuah orasi yang sangat memukau, rendah hati, jujur, dan santun, sebagaimana awal mula publik AS mengenal sosoknya saat berpidato pada Konvensi Nasional Partai Demokrat tahun 2004]



Halo Chicago,

Jika masih ada yang meragukan Amerika adalah sebuah tempat di mana segala sesuatu mungkin untuk terjadi, yang masih bertanya-tanya apakah impian para pendiri negara ini masih hidup sampai saat ini, yang masih meragukan kekuatan dari demokrasi kita, malam ini adalah jawaban untukmu.

Jawaban ini berasal dari antrian yang terbentang di sekolah-sekolah dan gereja-gereja, dalam jumlah yang tidak pernah dilihat bangsa ini sebelumnya, oleh orang yang menunggu selama tiga jam, empat jam, banyak di antara mereka yang melakukannya untuk pertama kali dalam hidup mereka, karena mereka percaya bahwa sekarang pasti berbeda, bahwa suara-suara mereka bisa menjadi perbedaan itu.

Jawaban ini diucapkan oleh tua dan muda, kaya dan miskin, demokrat dan republiken, kulit hitam-putih, hispanik-asia, Amerika asli, gay, normal, cacat maupun tidak, orang-orang Amerika yang mengirimkan pesan pada dunia bahwa kita tidak pernah hanya berupa sekumpulan individual atau sekumpulan negara-negara bagian merah dan biru, kita selalu
menjadi dan akan tetap menjadi Amerika Serikat.

Jawaban ini diberikan oleh mereka yang selalu dipandang dengan sinis oleh banyak orang, dianggap penakut, dan peragu tentang apa yang bisa kita raih, untuk meletakkan tangan mereka di atas gerbang sejarah dan sekali lagi menuju harapan hari yang lebih baik.

Sudah sangat lama sekali. Tapi malam ini, dikarenakan apa yang sudah kita lakukan hari ini, dalam pemilu ini, dalam saat yang menentukan ini, perubahan telah datang ke Amerika.

Beberapa saat yang lalu malam ini, saya menerima sebuah telepon yang luar biasa rendah hatinya dari Senator McCain. Senator McCain telah berjuang dengan gigih dan lama di kampanye ini, dan dia bahkan telah berjuang lebih gigih dan lebih lama lagi untuk negara yang dia cintai. Dia telah bertahan menghadapi cobaan-cobaan untuk Amerika, yang bahkan tidak bisa dibayangkan oleh kebanyakan dari kita. Kita menjadi lebih baik karena jasa yang diberikan oleh pemimpin yang berani dan tidak egois ini.

Saya mengucapkan selamat padanya, saya ucapkan selamat pada Gubernur Palin, atas segala pencapaian mereka, dan saya sangat menantikan untuk bekerja sama dengan mereka, untuk memperbaharui janji-janji bangsa ini dalam bulan-bulan mendatang.

Saya ingin berterima kasih rekan saya dalam perjalanan ini, seseorang yang berkampanye dari dalam hatinya, dan berbicara untuk pria dan wanita yang tumbuh besar bersamanya di jalanan Scranton dan teman seperjalanan pulang di kereta ke rumahnya di Delaware. Wakil Presiden Terpilih Amerika Serikat, Joe Biden.

Dan saya tidak akan berdiri di sini malam hari ini tanpa dukungan yang tak kenal lelah dari sahabat saya selama 16 tahun terakhir ini, kekuatan dalam keluarga kami, cinta dalam hidup saya, Ibu Negara bangsa ini yang berikutnya, Michelle Obama.

Sasha dan Malia, saya mencintai kalian berdua lebih dari yang bisa kalian bayangkan, dan kalian berhak mendapatkan anak anjing baru yang akan ikut kita ke Gedung Putih.

Dan meski pun dia tidak lagi bersama kita, saya tahu nenek saya sedang menyaksikan bersama keluarga yang telah menjadikan saya seperti sekarang ini, saya merindukan mereka malam ini, saya tahu hutang saya pada mereka tak terhingga jumlahnya. Kepada saudari saya Maya, saudari saya Auma, dan semua saudara dan saudari saya yang lain, terima kasih banyak atas dukungan yang telah kalian berikan pada saya. Saya sangat berterima kasih pada mereka.

Kepada manajer kampanye saya, David Plouffe, pahlawan tak dikenal dari kampanye ini, yang telah membangun kampanye politik, yang saya rasa, terbaik sepanjang sejarah Amerika. Kepada ketua strategi saya, David Axelrod yang telah menjadi rekan saya sepanjang jalan ini. Kepada tim kampanye terbaik yang pernah dibentuk dalam sejarah politik, kalianlah yang memungkinkan ini terjadi, dan saya selamanya berterima kasih atas segala pengorbanan kalian untuk mewujudkan hal ini.

Tapi di atas semua, saya tidak pernah melupakan pemilik sesungguhnya dari kemenangan ini. Kemenangan ini adalah milik Anda, kemenangan ini adalah milik Anda. Saya tidak pernah menjadi kandidat yang paling mungkin untuk jabatan ini. Kita tidak memulai dengan banyak uang dan dukungan. Kampanye kita tidak terpusat di aula-aula di Washington. Kampanye ini dimulai di halaman belakang rumah, di ruang keluarga, di teras depan. Kampanye ini dibangun oleh pria dan wanita pekerja keras yang menggali tabungan mereka yang hanya sedikit dan menyumbangkan 5 dolar, 10 dolar, 20 dolar untuk tujuan ini. Kampanye ini mendapatkan kekuatan dari orang-orang muda yang menolak mitos bahwa generasi mereka tidak mampu, yang mencintai rumah mereka, dan keluarga mereka untuk sebuah pekerjaan yang bergaji kecil dan waktu kerja yang panjang. Kampanye ini mendapatkan kekuatan dari orang-orang yang tidak begitu muda lagi, yang menantang dingin yang menggigit dan panas yang membara untuk mengetuk pintu orang-orang asing, dan dari jutaan orang Amerika yang secara sukarela mengorganisir dan membuktikan pada kita bahwa dua abad kemudian sebuah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat belumlah musnah dari muka bumi. Ini adalah kemenangan kalian.

Dan saya tahu Anda melakukan ini tidak hanya untuk memenangkan sebuah pemilu. Saya tahu Anda tidak melakukan ini untuk saya. Anda melakukannya karena Anda paham beratnya tugas-tugas yang ada di masa depan. Karena bahkan ketika kita merayakan malam ini, kita tahu tantangan yang akan dibawa oleh masa depan, adalah yang terberat sepanjang hidup kita. Dua perang, sebuah planet yang terancam hancur, krisis finansial yang terparah selama seabad terakhir.

Bahkan pada saat kita berdiri di sini malam ini, kita tahu ada warga negara Amerika yang berani baru terbangun dari tidurnya di padang pasir Irak, di pegunungan Afghanistan untuk mempertaruhkan nyawa mereka untuk kita. Ada orangtua yang tetap terjaga setelah anak-anak mereka tertidur dan bertanya bagaimana cara membayar hipotek rumah, atau membayar tagihan kesehatan, atau menabung agar dapat menyekolahkan anak-anak mereka ke perguruan tinggi.

Ada energi baru untuk dimanfaatkan, pekerjaan baru untuk diciptakan, sekolah-sekolah baru untuk dibangun, juga ancaman-ancaman untuk dihadapi, persekutuan untuk diperbaiki. Jalan ke depan akan panjang. Kita harus mendaki gunung tinggi. Kita mungkin tidak akan berhasil dalam setahun atau bahkan dalam satu masa jabatan. Tapi, Amerika, belum pernah saya memiliki harapan sebesar malam ini bahwa kita akan berhasil mencapainya. Saya berjanji pada Anda, kita sebagai sebuah bangsa akan mencapainya.

Akan ada langkah mundur, dan awal yang salah. Akan ada banyak di antara kalian yang tidak sependapat dengan tiap kebijakan yang saya keluarkan sebagai presiden. Dan kita tahu pemerintah tidak bisa menyelesaikan setiap masalah. Tapi saya akan selalu jujur pada Anda tentang tantangan yang kita hadapi. Saya akan mendengarkan Anda, terutama pada saat kita tidak sependapat. Dan di atas semua itu saya akan minta Anda untuk bergabung dalam pekerjaan untuk membangun kembali bangsa ini, dengan satu-satunya cara yang telah dilakukan selama 221 tahun di Amerika. Blok per blok, bata per bata, ruang per ruang.

Apa yang dimulai 21 bulan yang lalu di sebuah malam musim dingin tidak bisa berakhir pada malam musim gugur ini. Kemenangan ini sendiri bukanlah perubahan yang kita cari. Ini hanyalah sebuah kesempatan untuk membuat perubahan itu. Dan itu tidak bisa terjadi bila kita kembali ke saat-saat sebelumnya. Perubahan itu tidak bisa terjadi tanpa Anda. Tanpa semangat melayani yang baru, semangat berkorban yang baru. Jadi marilah kita menciptakan sebuah semangat yang baru, semangat patriotisme, rasa tanggung jawab, di mana masing-masing dari kita menjadi patriot dan bekerja lebih keras serta tidak hanya menjaga diri sendiri tapi saling menjaga.

Marilah kita mengingat bila ada pelajaran yang bisa dipetik dari krisis finansial ini, adalah kita tidak bisa memiliki sebuah “Wall Street” yang jaya tapi jalan yang lain menderita. Dalam bangsa ini, kita bangkit dan jatuh sebagai satu kesatuan. Mari kita menolak untuk kembali ke budaya partisan dan kelompok, dan ketidakdewasaan yang telah mencemari politik kita sekian lamanya. Marilah kita ingat bahwa seorang pria dari negara bagian ini yang pertama kali membawa bendera Partai Republik di Gedung Putih, sebuah partai yang didirikan dengan nilai-nilai kemandirian, dan kebebasan individu dan persatuan nasional. Semua itu adalah nilai-nilai yang kita semua yakini. Dan meskipun Partai Demokrat mendapatkan kemenangan besar malam ini, kita melakukannya dengan segala kerendahan hati, dan kegigihan yang telah mengobati apapun yang selama ini menghambat kemajuan kita.

Seperti yang pernah Lincoln katakan ke sebuah bangsa yang jauh lebih terkotak-kotak dibandingkan kita, kita bukanlah musuh tapi teman. Meskipun nafsu bisa membuat hubungan kita tegang, tapi tidak boleh memutuskan ikatan kasih sayang di antara kita. Kepada warga negara Amerika yang dukungannya belum saya dapatkan, saya mungkin tidak mendapatkan suara Anda malam ini, tapi saya mendengar suara-suara Anda. Saya membutuhkan bantuan kalian. Dan saya akan menjadi presiden Anda juga.

Dan untuk semua yang malam ini menyaksikan dari luar pantai-pantai kita, dari gedung-gedung parlemen dan istana-istana, bagi mereka yang mendengarkan dari radio di sudut dunia yang terlupakan, cerita kita satu dan nasib kita saling terhubung. Fajar baru kepemimpinan Amerika sedang menyingsing. Kepada kalian yang meruntuhkan dunia, kami akan mengalahkan kalian. Kepada kalian yang mencari perdamaian dan keamanan, kami mendukung kalian. Dan untuk mereka yang masih bertanya-tanya apakah pemancar-pemancar Amerika masih menyala terang, malam ini kita kembali membuktikan bahwa kekuatan sesungguhnya dari bangsa kita bukan datang dari letusan senjata kita atau dari kekuatan ekonomi kita tapi dari kekuatan ide-ide kita yang terus bertahan, demokrasi, kebebasan, kesempatan, dan harapan yang tak tergoyahkan.

Itulah arti Amerika yang sesungguhnya. Bahwa Amerika bisa berubah. Persatuan kita bisa disempurnakan. Apa yang telah kita capai memberikan harapan tentang apa yang bisa dan harus kita capai besok. Pemilu ini mencatat banyak pertama kali-pertama kali dan banyak cerita yang akan diceritakan selama beberapa generasi, tapi satu yang ada di kepala saya malam ini adalah tentang seorang wanita yang menggunakan hak pilihnya di Atlanta. Dia sama seperti warga negara lain yang mengantre dan menyuarakan pendapatnya di pemilu ini kecuali untuk satu hal, Anne Nixon-Cooper berusia 106 tahun. Dia dilahirkan hanya selang satu generasi setelah perbudakan dihapuskan, sebuah masa di mana tidak ada mobil di jalanan dan pesawat di angkasa, di mana seseorang sepertinya tidak bisa memilih karena dua alasan yaitu karena dia wanita dan warna kulitnya. Dan malam ini, saya berpikir tentang apa saja yang telah dilihatnya dalam seabad kehidupannya di Amerika. Masa sulit dan harapan, perjuangan dan kemajuan, masa-masa di mana kita diberitahu bahwa kita tidak bisa, dan orang-orang yang terus melawan dengan nilai Amerika itu, “Ya, kita bisa.”

Masa di mana suara wanita dibungkam dan harapan mereka diabaikan. Dia hidup untuk melihat mereka bangkit, bersuara dan menuju tempat pemungutan suara, “Ya, kita bisa.”

Ketika keputusasaan menyebar dan debu berjatuhan, depresi di seluruh negeri, dia melihat sebuah negeri menaklukkan rasa takutnya dengan perjanjian baru, pekerjaan baru, rasa tujuan bersama yang baru, “Ya, kita bisa.”

Ketika bom berjatuhan di pelabuhan kita, dan tirani mengancam dunia, dia ada untuk menyaksikan sebuah generasi bangkit menuju kejayaan dan demokrasi diselamatkan. “Ya, kita bisa.”

Dia ada untuk bus-bus di Montgomery, rumah-rumah di Birmingham, jembatan-jembatan di Selma, dan pendakwah dari Atlanta yang memberitahu orang-orang bahwa kita akan bertahan, “Ya, kita bisa.”

Seorang pria menjajakkan kaki di bulan, sebuah tembok runtuh di Berlin, sebuah dunia terhubung oleh ilmu pengetahuan dan imajinasi kita sendiri, dan tahun ini di pemilu ini, dia menyentuhkan jarinya ke sebuah layar, dan menentukan pilihannya, karena setelah 106 tahun hidupnya di Amerika, melalui masa-masa senang maupun susah, dia tahu bagaimana Amerika bisa berubah, “Ya, kita bisa.”

Amerika, kita sudah berjalan begitu jauh, kita sudah melihat begitu banyak hal, tapi masih banyak lagi yang harus dilakukan. Jadi malam ini mari kita tanyakan pada diri kita sendiri, jika anak perempuan saya bisa hidup untuk melihat abad berikutnya, jika anak saya begitu beruntung untuk bisa hidup selama Anne Nixon-Cooper, perubahan apa yang akan mereka lihat? Kemajuan apa yang telah kita buat? Inilah kesempatan kita untuk menjawab pertanyaan itu. Inilah saat kita.

Inilah waktu kita untuk kembali menempatkan rakyat kita dalam pekerjaan, membuka pintu-pintu kesempatan bagi anak-anak kita. Untuk mengembalikan kesejahteraan dan menciptakan tujuan-tujuan perdamaian, untuk kembali meng-klaim impian Amerika dan kembali memastikan kenyataan yang mendasar bahwa meski berbeda-beda kita adalah satu. Bahwa pada saat kita bernafas kita juga berharap dan ketika kita berhadapan dengan sinisme dan keraguan dan mereka yang menyatakan bahwa kita tidak bisa, kita akan membalas dengan nilai yang tidak berujung waktu itu yang merupakan inti dari semangat rakyat, “Ya, kita bisa.”

Terima kasih. Tuhan memberkati Anda dan semoga Tuhan memberkati Amerika Serikat.[]




Video Pidato Kemenangan Obama




Anne Nixon-Cooper




Reaksi Dunia Atas Kemenangan Obama




Liputan Al Jazeera dari Menteng



Catt: Akan lebih seru membaca terjemahan pidato Obama sambil menyaksikan videonya. Ada juga video tentang Anne Nixon-Cooper, sosok yang cukup panjang dibahas Obama dalam pidatonya.


Kamis, 06 November 2008

Adam Malik Agen CIA?

Rinaldo

Seperti biasa, awal Oktober lalu saya memasuki sebuah toko buku di Mal Ambasador, Kuningan, Jakarta Selatan. Tujuannya tak lain untuk membeli majalah F1 Racing dan Cinemags. Majalah F1 Racing edisi Oktober tampil dengan laporan balapan F1 malam hari yang pertama kali digelar di Singapura. Sedangkan Cinemags mengupas Quantum of Solace, sekuel film James Bond, Casino Royale.

Sebelum menuju kasir, mata saya tiba-tiba terpikat pada sebuah buku yang cukup tebal dengan sampul berwarna merah. Judulnya Membongkar Kegagalan CIA: Spionase Amatiran Sebuah Negara Adi Daya. Tanpa pikir panjang saya langsung ambil dan bawa ke kasir.

Sudah cukup lama rasanya saya tidak membaca buku yang bagus tentang spionase. Terakhir adalah Spy Catcher, buku yang sempat menghebohkan karena ditulis oleh mantan Deputi Direktur Dinas Rahasia Inggris MI5, Peter Wright. Namun, itu sudah lama saya beli, sekitar dua dasawarsa silam, ketika masih duduk di bangku SMA.

Kini saya berharap buku ini bisa memberi kepuasan serupa. Harapan itu agaknya tak berlebihan. Penulisnya, Tim Weiner, bukanlah penulis kacangan. Dia pernah meraih penghargaan Pulitzer untuk kategori National Reporting atas laporan berseri yang dimuat di harian The Philadelphia Inquirer tentang rahasia anggaran untuk Pentagon.

Sejak awal buku ini sudah menawarkan fakta kelam tentang perjalanan dinas rahasia yang kondang itu. Ditulis di buku ini, sejak mulai berkuasa di Kuba, Fidel Castro sudah menjadi incaran CIA. Berbagai cara untuk membunuhnya dilakukan dengan seizin Presiden AS. Diracun, ditembak, serta dikudeta. Kenyataannya, hingga kini Castro tetap berkuasa, sementara Presiden AS yang merencanakan pembunuhan sudah pada mangkat.

Tidak hanya itu, dari puluhan ribu dokumen serta wawancara dengan agen, Weiner juga menuliskan satu per satu negara yang menjadi target kudeta CIA. Beberapa sukses, tapi lebih banyak yang gagal. Termasuk kegagalan CIA mendeteksi insiden Teluk Babi, mengendus pembunuh Presiden Kennedy, skandal Watergate, sampai informasi bohong dari dinas ini yang membuat AS menyerang Irak.

Namun, yang paling mengagetkan tentu saja fakta keterlibatan CIA dalam peta politik di Indonesia. Semuanya diawali saat Indonesia memasuki masa pergolakan di tahun 1958. Sudah umum diketahui bahwa AS (melalui agen-agen CIA) turut membantu kaum pemberontak yang terlibat dalam Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Sumatra dan Sulawesi. Untuk yang ini, AS mengaku gagal.

Yang masih menjadi pertanyaan, apakah AS ikut terlibat dalam tragedi berdarah pada tanggal 1 Oktober 1965? Dalam buku ini, rahasianya mulai terkuak dan cukup membuat saya tercengang. Di halaman 331 buku ini, disebutkan bahwa Adam Malik, tokoh yang banyak memegang jabatan penting di republik ini, adalah agen bentukan CIA.

"Saya merekrut dan mengontrol Adam Malik. Dia adalah pejabat Indonesia tertinggi yang pernah kami rekrut," ujar perwira CIA di Jakarta waktu itu, Clyde McAvoy, dalam wawancara dengan penulis buku ini. Tidak sampai di situ kekagetan saya. Konon, melalui Adam Malik pula kemudian CIA mengonsolidasikan tokoh yang disebut Tiga Serangkai, yaitu Adam Malik, Mayjen Soeharto, dan Sultan yang berkuasa di Jawa Tengah (mungkin maksudnya Sri Sultan Hamengku Buwono IX).

Selama era peralihan kekuasaan itu, Adam Malik disebutkan beberapa kali bertemu dengan Duta Besar AS untuk Indonesia, Marshall Green, di tempat yang dirahasiakan. Adam Malik yang selalu bertindak sebagai penghubung Tiga Serangkai juga disebutkan menerima bantuan ribuan dolar serta daftar nama puluhan orang yang terindikasi sebagai anggota PKI.

Entah kebetulan atau tidak, di awal Orde Baru, ketiganya menjabat di posisi terpenting negeri ini. Soeharto menjadi Presiden RI, Sri Sultan menjabat Wakil Presiden RI, dan Adam Malik sebagai Menteri Luar Negeri RI. Hebatnya lagi, sesaat setelah dilantik sebagai Menlu RI, Adam Malik diundang ke Gedung Putih dan sempat berbicara selama 20 menit dengan Presiden AS Lyndon Baines Johnson.

Konon, atas dukungan AS pula Adam Malik kemudian terpilih menjadi Ketua Sidang Umum PBB, sebelum kemudian menjadi orang nomor dua menggantikan Sri Sultan sebagai Wakil Presiden RI. CIA sendiri menegaskan tak terlibat dalam peristiwa G-30/S PKI, namun membenarkan telah menunggangi tragedi itu untuk kepentingan AS.

Sulit untuk membantah fakta ini. Pertama, data yang dibeberkan berasal dari dokumen rahasia CIA yang belum lama ini dibuka. Untuk menulis buku ini, Weiner telah melahap sekitar 50 ribu dokumen dan mewawancarai belasan mantan Direktur CIA serta ratusan perwira lapangan lembaga itu.

Kedua, kita tak bisa mengonfirmasi kebenaran cerita itu kepada nama-nama yang disebutkan Weiner karena mereka sudah meninggal. Namun, sulit untuk dibantah adanya campur tangan AS dalam peristiwa berdarah itu. Banyak sudah buku yang ditulis untuk membongkar konspirasi AS dan petinggi TNI AD, meski semuanya sulit dibuktikan.

Terlepas dari benar atau tidaknya Adam Malik Connection tersebut, buku Weiner ini sangat layak dibaca penggemar spionase. Banyak kasus-kasus besar di dunia sejak berakhirnya Perang Dunia II ternyata tak lepas dari campur tangan intelijen AS. Dan, tak sedikit pula yang berakhir tragis.

Melalui buku ini kita jadi tahu, AS tak sebesar nama yang disandangnya, dan CIA juga tak ubahnya tempat berkumpul intel-intel Melayu yang hanya menang pamor, namun kalah di lapangan.***


Markas Besar CIA di Langley, Virginia.


Adam Malik dan Bukunya


Fakta Sejarah Kelam CIA


"Saya merekrut dan mengontrol Adam Malik. Dia adalah pejabat Indonesia tertinggi yang pernah kami rekrut," ujar perwira CIA di Jakarta waktu itu, Clyde McAvoy.


Sesaat setelah dilantik sebagai Menlu RI, Adam Malik diundang ke Gedung Putih dan sempat berbicara selama 20 menit dengan Presiden AS Lyndon Baines Johnson.


Untuk menulis buku ini, Weiner telah melahap sekitar 50 ribu dokumen dan mewawancarai belasan mantan Direktur CIA serta ratusan perwira lapangan lembaga itu.


Melalui buku ini kita jadi tahu, CIA tak ubahnya tempat berkumpul intel-intel Melayu yang hanya menang pamor, namun kalah di lapangan.