Kamis, 06 November 2008

Adam Malik Agen CIA?

Rinaldo

Seperti biasa, awal Oktober lalu saya memasuki sebuah toko buku di Mal Ambasador, Kuningan, Jakarta Selatan. Tujuannya tak lain untuk membeli majalah F1 Racing dan Cinemags. Majalah F1 Racing edisi Oktober tampil dengan laporan balapan F1 malam hari yang pertama kali digelar di Singapura. Sedangkan Cinemags mengupas Quantum of Solace, sekuel film James Bond, Casino Royale.

Sebelum menuju kasir, mata saya tiba-tiba terpikat pada sebuah buku yang cukup tebal dengan sampul berwarna merah. Judulnya Membongkar Kegagalan CIA: Spionase Amatiran Sebuah Negara Adi Daya. Tanpa pikir panjang saya langsung ambil dan bawa ke kasir.

Sudah cukup lama rasanya saya tidak membaca buku yang bagus tentang spionase. Terakhir adalah Spy Catcher, buku yang sempat menghebohkan karena ditulis oleh mantan Deputi Direktur Dinas Rahasia Inggris MI5, Peter Wright. Namun, itu sudah lama saya beli, sekitar dua dasawarsa silam, ketika masih duduk di bangku SMA.

Kini saya berharap buku ini bisa memberi kepuasan serupa. Harapan itu agaknya tak berlebihan. Penulisnya, Tim Weiner, bukanlah penulis kacangan. Dia pernah meraih penghargaan Pulitzer untuk kategori National Reporting atas laporan berseri yang dimuat di harian The Philadelphia Inquirer tentang rahasia anggaran untuk Pentagon.

Sejak awal buku ini sudah menawarkan fakta kelam tentang perjalanan dinas rahasia yang kondang itu. Ditulis di buku ini, sejak mulai berkuasa di Kuba, Fidel Castro sudah menjadi incaran CIA. Berbagai cara untuk membunuhnya dilakukan dengan seizin Presiden AS. Diracun, ditembak, serta dikudeta. Kenyataannya, hingga kini Castro tetap berkuasa, sementara Presiden AS yang merencanakan pembunuhan sudah pada mangkat.

Tidak hanya itu, dari puluhan ribu dokumen serta wawancara dengan agen, Weiner juga menuliskan satu per satu negara yang menjadi target kudeta CIA. Beberapa sukses, tapi lebih banyak yang gagal. Termasuk kegagalan CIA mendeteksi insiden Teluk Babi, mengendus pembunuh Presiden Kennedy, skandal Watergate, sampai informasi bohong dari dinas ini yang membuat AS menyerang Irak.

Namun, yang paling mengagetkan tentu saja fakta keterlibatan CIA dalam peta politik di Indonesia. Semuanya diawali saat Indonesia memasuki masa pergolakan di tahun 1958. Sudah umum diketahui bahwa AS (melalui agen-agen CIA) turut membantu kaum pemberontak yang terlibat dalam Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Sumatra dan Sulawesi. Untuk yang ini, AS mengaku gagal.

Yang masih menjadi pertanyaan, apakah AS ikut terlibat dalam tragedi berdarah pada tanggal 1 Oktober 1965? Dalam buku ini, rahasianya mulai terkuak dan cukup membuat saya tercengang. Di halaman 331 buku ini, disebutkan bahwa Adam Malik, tokoh yang banyak memegang jabatan penting di republik ini, adalah agen bentukan CIA.

"Saya merekrut dan mengontrol Adam Malik. Dia adalah pejabat Indonesia tertinggi yang pernah kami rekrut," ujar perwira CIA di Jakarta waktu itu, Clyde McAvoy, dalam wawancara dengan penulis buku ini. Tidak sampai di situ kekagetan saya. Konon, melalui Adam Malik pula kemudian CIA mengonsolidasikan tokoh yang disebut Tiga Serangkai, yaitu Adam Malik, Mayjen Soeharto, dan Sultan yang berkuasa di Jawa Tengah (mungkin maksudnya Sri Sultan Hamengku Buwono IX).

Selama era peralihan kekuasaan itu, Adam Malik disebutkan beberapa kali bertemu dengan Duta Besar AS untuk Indonesia, Marshall Green, di tempat yang dirahasiakan. Adam Malik yang selalu bertindak sebagai penghubung Tiga Serangkai juga disebutkan menerima bantuan ribuan dolar serta daftar nama puluhan orang yang terindikasi sebagai anggota PKI.

Entah kebetulan atau tidak, di awal Orde Baru, ketiganya menjabat di posisi terpenting negeri ini. Soeharto menjadi Presiden RI, Sri Sultan menjabat Wakil Presiden RI, dan Adam Malik sebagai Menteri Luar Negeri RI. Hebatnya lagi, sesaat setelah dilantik sebagai Menlu RI, Adam Malik diundang ke Gedung Putih dan sempat berbicara selama 20 menit dengan Presiden AS Lyndon Baines Johnson.

Konon, atas dukungan AS pula Adam Malik kemudian terpilih menjadi Ketua Sidang Umum PBB, sebelum kemudian menjadi orang nomor dua menggantikan Sri Sultan sebagai Wakil Presiden RI. CIA sendiri menegaskan tak terlibat dalam peristiwa G-30/S PKI, namun membenarkan telah menunggangi tragedi itu untuk kepentingan AS.

Sulit untuk membantah fakta ini. Pertama, data yang dibeberkan berasal dari dokumen rahasia CIA yang belum lama ini dibuka. Untuk menulis buku ini, Weiner telah melahap sekitar 50 ribu dokumen dan mewawancarai belasan mantan Direktur CIA serta ratusan perwira lapangan lembaga itu.

Kedua, kita tak bisa mengonfirmasi kebenaran cerita itu kepada nama-nama yang disebutkan Weiner karena mereka sudah meninggal. Namun, sulit untuk dibantah adanya campur tangan AS dalam peristiwa berdarah itu. Banyak sudah buku yang ditulis untuk membongkar konspirasi AS dan petinggi TNI AD, meski semuanya sulit dibuktikan.

Terlepas dari benar atau tidaknya Adam Malik Connection tersebut, buku Weiner ini sangat layak dibaca penggemar spionase. Banyak kasus-kasus besar di dunia sejak berakhirnya Perang Dunia II ternyata tak lepas dari campur tangan intelijen AS. Dan, tak sedikit pula yang berakhir tragis.

Melalui buku ini kita jadi tahu, AS tak sebesar nama yang disandangnya, dan CIA juga tak ubahnya tempat berkumpul intel-intel Melayu yang hanya menang pamor, namun kalah di lapangan.***


Markas Besar CIA di Langley, Virginia.


Adam Malik dan Bukunya


Fakta Sejarah Kelam CIA


"Saya merekrut dan mengontrol Adam Malik. Dia adalah pejabat Indonesia tertinggi yang pernah kami rekrut," ujar perwira CIA di Jakarta waktu itu, Clyde McAvoy.


Sesaat setelah dilantik sebagai Menlu RI, Adam Malik diundang ke Gedung Putih dan sempat berbicara selama 20 menit dengan Presiden AS Lyndon Baines Johnson.


Untuk menulis buku ini, Weiner telah melahap sekitar 50 ribu dokumen dan mewawancarai belasan mantan Direktur CIA serta ratusan perwira lapangan lembaga itu.


Melalui buku ini kita jadi tahu, CIA tak ubahnya tempat berkumpul intel-intel Melayu yang hanya menang pamor, namun kalah di lapangan.





1 komentar:

Arra Araide mengatakan...

iyah.iyah...

blognya aku link ya...