Kamis, 09 September 2010

Liputan Pagi dan Liputan Pagi Lagi

Awal Agustus lalu saya mendapat tugas liputan keluar daerah. Dari surat tugas yang saya terima, di Jember, Jawa Barat, pekan pertama di Agustus itu akan ada ajang Jember Fashion Carnaval 2010. Bersama dengan saya berangkat sekitar enam kru liputan lainnya. Di Bandara Soekarno-Hatta, kami bertemu dengan anggota tim lainnya dari bagian teknik sebanyak empat orang. Jadilah kami semuanya 11 orang. Sampai di Bandara Juanda Surabaya pada malam harinya, kami langsung berangkat dengan tiga mobil sewaan menuju Jember. Setelah menempuh perjalanan selama empat jam, sampailah kami di Jember dan langsung masuk hotel.

Belum banyak aktivitas berarti tentang JFC 2010 yang bisa kami liput selain persiapan demi persiapan. Dan seperti kebiasaan di Liputan 6 SCTV, setiap akhir pekan bakal ada liputan khusus untuk ditayangkan di Liputan 6 Pagi. Karena kebetulan kami yang berada di lokasi untuk tayangan langsung, maka materi untuk liputan khusus pagi itu diserahkan ke kami. Untuk tayangan Sabtu pagi akhirnya ditetapkan untuk meliput perkebunan tembakau du Jember. Sedangkan untuk Minggu pagi, kami akan meliput langsung kesibukan di Alun-alun Kota Jember yang juga akan menjadi pusat kegiatan JFC 2010.

Sabtu pagi, sekitar pukul 03.00 WIB, seluruh kru pun berangkat ke lokasi. Perjalalanan ke lokasi lumayan lama, sekitar satu jam, karena berada di luar kota. Di sana sudah menunggu mobil satellite news gathering (SNG) yang akan memancarkan liputan kami ke studio di Jakarta untuk disiarkan secara langsung bagi pemirsa. Liputan berlangsung lancar dan seluruh kru sempat disuguhi rokok cerutu dan sarapan pagi oleh pemilik perkebunan. Usai liputan, kami langsung ke hotel untuk melanjutkan tidur yang tak tuntas semalam.

Minggu pagi, kejadian yang sama terulang lagi. Hanya saja, lokasinya kali ini berbeda, yaitu di Alun-alun Kota Jember. Cukup repot liputan kali ini karena banyak warga yang datang dan berkumpul di Alun-alun. Ada yang datang untuk lari pagi, sekadar mencari sarapan, serta pedagang yang lumayan banyak. Pagi ini yang menjadi narasumber adalah Wakil Kapolres Jember yang berbicara seputar pengamanan ajang JFC 2010. Usai liputan kami kembali ke hotel, tapi sulit untuk melanjutkan tidur, karena siangnya kami harus meliput JFC 2010, yang menjadi tujuan utama kami datang ke Jember. Maka, kantuk harus ditahan untuk sementara.



Pagi yang dingin, Sabtu (7/8/10), kru sudah berada di sebuah perkebunan tembakau di Jember, Jawa Timur.


Saking dinginnya, Firman yang tak doyan rokok sekarang jadi addict, cerutu pun diisap dalam-dalam...


Aroma cerutu betul2 menjadi primadona pagi itu...


Mau lihat aksi Riko merokok, silahken. Tidak setiap hari pemandangan seperti ini bisa dilihat, Riko dan kepulan asap...


Meski terasa pahit, Riko tetap bertahan, tak mungkin membuat sang empunya kebun tembakau tersinggung dengan membuang cerutu yang sudah dikasih.....


Dari kiri ke kanan: Bos kebun tembakau, pewaris tahta, penjaga kebun....


"Mengisap cerutu cukup sampai di kerongkongan, jangan diteruskan sampai rongga dada, di situ seninya," ujar Pak Kahar, bos kebun tembakau, kepada Radit yang matanya masih terbuka sebagian.....


Kang Ade sepertinya kurang berkenan dengan acara bagi-bagi rokok, sebab cerutu telah mengalahkan ukuran rokok kesayangannya, 234, yang selama ini selalu dibanggakan sebagai rokok orang-orang macho. Di atas Samson masih ada Hercules ya Kang.....


Wajah ngantuk ditambah pula hasil foto kaya begini, lengkaplah sudah....


Tawa yang ikhlas karena diberi cerutu gratis, kecuali yang paling belakang, agak manyun karena kehabisan cerutu.....


Duh, belum berubah juga hasil fotonya.....


Yanto sang omnivora di Tim Liputan Jember menahan dingin tanpa cerutu, bahkan permintaan sebatang 234 pun ditolak Kang Ade, nasibmu Nto....


Foto bareng antara reporter Liputan 6 dengan para fans di kebun tembakau......


Para fans Riko yang lain terlihat bergerombol di latar belakang, ibu-ibu pemetik tembakau....


Meski sudah sarapan, wajah ngantuk tak bisa hilang...


Syukur masih ada cerutu yang membuat mata melek....


Rekan-rekan tim teknik terlihat lega sesuai liputan 6 pagi yang tampil live....


Rapat dadakan usai sarapan membahas dua opsi: Melanjutkan tidur atau pelesir ke Watu Ulo? Mereka yang hobi tidur akhirnya memenangkan referendum itu....


No comment...


Bersiap balik ke hotel melanjutkan mimpi yang tak tuntas......


Sebelum tidur sarapan lagi di teras kamar hotel.....


Sudah berjam-jam diisap, sang cerutu tak kunjung habis....


Yanto menelpon tukang pijet sambil ngos-ngosan di pagi hari, serem beneeerr......


Riko terlihat puas menyaksikan tayangan Liputan 6 Pagi melalui website liputan6.com.


Ngantuk sudah tak bisa ditahan, cerutu tak kunjung habis, dibuang pun sayang......


Yanto menunggu tukang pijet yang tak kunjung datang....


Hasil jepretan Yanto di kamar bos Tim Liputan Jember....


Nyenyak tidur di sela-sela liputan live pagi dan live siang......


Nelangsanya wajah pria yang tak kunjung didatangi tukang pijet.........


Bodi boleh kecil, tapi nyali jangan tanya. Cuma kepada Jaja mobil SNG (Satelite News Gathering) SCTV yang gemuk itu takluk......


Ya udah, terjun dulu tuh ke kolam Nto, buat buang sial.....


Wajah mupeng itu akhirnya menyerah dan berusaha untuk meneruskan tidur yang terganggu oleh pekerjaan....


Sementara di luar kamar, sang driver SNG sedang memikirkan cara membawa SNG ke Wakatobi pakai getek.....


Lorong kamar hotel langsung kosong begitu seluruh kru Liputan 6 masuk kamar.....


Minggu (8/8/10) pagi, seluruh kru kembali berugas sejak sebelum matahari terbit......


Hingga matahari terbit, persiapan masih berlangsung......


Akhirnya, siarang langsung Liputan 6 Pagi dari Alun-alun Kota Jember dimulai.....


Firman yang lapar karena belum sarapan, tambah sengsara karena harus mengambil gambar pedagang makanan......


Kabag Ops Polres Jember Kompol Erick Hermawan menjawab pertanyaan Riko soal pengamanan JFC 2010.


Kompol Erick terlihat kerap menatap Yanto, mungkin kru Liputan 6 itu mirip dengan salah seorang tersangka narkoba di Polres Jember yang kini buron.....


Usai liputan di Alun-alun Kota Jember, istirahat dan sarapan lagi di teras kamar.....


Lupa kalau lagi diet, terpaksa makanan yang dibawa untuk sarapan tak habis dimakan......


Istirahat sejenak di depan kamar sebelum turun lagi untuk liputan langsung siang nanti.....


Salah seorang peserta JFC terlihat bersiap di Sanggar Dynand Fariz, Jember.


Dari pakaiannya ketahuan kalau ini adalah tim Dream Sky.......


Peserta dari Dream Sky termasuk yang paling menonjol karena keindahan kostumnya.....


Kalau yang ini tak hanya kostumnya yang indah, tapi juga........


Kameraman pun dibuat tak bisa diam untuk mengabadikan keindahan itu.....


Juno tak ketinggalan pasang aksi di depan kupu2 yang menggoda iman....


Dua putra Jember bertemu, yang satu membangun sanggar seni yang besar, yang satu lagi baru saja tahu kalau tempat kosnya dulu ternyata sudah kena gusur, poor Radit.....


Bersantai sejenak sebelum liputan di Sanggar Dinand Fariz....


Kamera udah siap, Bos Tanto pun dengan anteng main fesbuk, ha...ha..ha....


Tiga kamera ditambah dua lagi dari tim Potret cukuplah untuk meliput even sekelas JFC....


Seluruh kostum yang digunakan merupakan kreasi peserta dan dengan biaya sendiri....


Riko, Berno, Radit dan pemegang kabel siap di tempat sesaat sebelum siaran langsung......


Majoret marching band JFC sebelum ikut latihan.....


Siaran langsung itu dimulai......


Usai tampil live makan siang dulu....


Dari gayanya tak perlu dijelaskan apa profesi pria ini sebelum bergabung dengan SCTV, ya tukang uji mikrophone...


Gambar didapat, senyum pun meluncur untuk Anto......


Masih kurang puas, Anto minta nambah, alasannya kamera digital hasilnya kurang bagus jadi harus dipotret sering2 biar hasilnya bisa diseleksi, bisa aja ngelesnya....


Kalo peserta yang ini memang layak diabadikan....


Riko kembali beraksi di tayangan langsung......


Cara gampang memotret diri sendiri...


Di sela jeda menunggu panggilan dari master kontrol.....


Ini gak keliatan di tayangan siaran langsung kan....?


Firman harus naik tangga untuk mendapatkan gambar terbaik....


Sebagai pendatang Yanto memang harus nurut sama putra asli daerah, disuruh narik becak ya nariiikkkk......


Tapi, setelah diperhatikan, keduanya persis seperti tentara jepang dan pekerja Romusha..... Tapi mana ada Romusha badannya segede gajah gitu.....


Sebenarnya, Radit dan Yanto sedang napak tilas di Alun-alun Kota Jember, melihat persiapan acara puncak JFC.....



Senin, 23 Agustus 2010

Kemal, Sejarah yang Hilang

Rinaldo


Suatu hari di penghujung 1995. Pagi itu saya tiba di Gedung Putra Kalimantan, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, untuk keperluan wawancara penulisan skripsi. Sebelum bertemu nara sumber, saya menuju toilet gedung itu. Sebab, betapa tidak nyamannya mewawancarai seseorang dalam kondisi kantung kemih mendesak untuk dikosongkan.

Saat melepas risleting celana di depan jamban, seorang bapak berambut putih, bertubuh gemuk dan berpakaian rapi, masuk ke dalam toilet dan berdiri di samping saya. Agaknya dia juga punya urusan yang "mendesak". Anehnya, melalui sudut mata saya merasa bapak ini terus-terusan melirik ke samping, ke arah saya. Jujur, ketika itu berbagai pikiran dan sangkaan berkecamuk.

Akhirnya, dengan memberanikan diri, saya pun menengok ke samping, menatap sang bapak. Bukannya mengalihkan pandangan, bapak berdasi ini malah bertanya dengan suara tegas, "Kamu yang akan mewawancarai saya?" Nah, itulah awal perkenalan saya dengan Letnan Jenderal TNI (Pur) Kemal Idris. Dari delapan mantan perwira tinggi TNI yang menjadi nara sumber penelitian ini, Kemal Idris satu-satunya yang wajahnya tidak saya kenal.


Saat wawancara akan dimulai, mantan Panglima Kostrad ini pun mendahului bertanya, "Dari mana kamu mengenal nama saya?" Mungkin pertanyaan ini terbilang aneh. Sebagai seorang perwira yang dikenal dari garis keras, Kemal adalah sosok yang tak bisa dilepaskan dari sejarah bangsa ini. Dalam berbagai peristiwa penting dimasa lalu, nama Kemal tak pernah absen.

Sekadar contoh, pada 17 Oktober 1952, dengan pangkat letnan kolonel, Kemal mengerahkan pasukan dan menghadapkan moncong meriam ke Istana Merdeka menuntut pembubaran parlemen oleh Presiden Soekarno. Aksi ini gagal dan berakibat Kepala Staf Angkatan Darat Abdul Haris Nasution dipecat dari jabatannya.


Tak cukup sekali, aksi yang sama kembali diulang Kemal pada 11 Maret 1966. Pagi itu, Brigadir Jenderal Kemal Idris selaku Kepala Staf Kostrad mengerahkan anak buahnya mengepung Istana Merdeka. Kali ini aksinya berhasil. Presiden Soekarno yang tengah memimpin sidang kabinet meninggalkan Istana yang kemudian seperti kita ketahui berbuntut keluarnya Surat Perintah 11 Maret.

Anehnya, dengan peran yang begitu penting dalam perjalanan sejarah Indonesia, saya sama sekali tidak pernah menemukan nama beliau dalam buku pelajaran sejarah di sekolah. Agaknya hal inilah yang melatarbelakangi pertanyaan beliau di awal wawancara. Karena itu, saya menjadi malu baru mengenal sepak terjang mantan Komandan Batalyon Kala Hitam di masa revolusi ini ketika akan menyusun skripsi.


Lebih parah lagi, dari puluhan buku yang menjadi rujukan untuk penulisan skripsi saya, nama Kemal Idris hanya ditemukan di buku yang ditulis pengarang asing. Buku itu antara lain Politik Militer Indonesia 1945-1967: Menuju Dwi Fungsi ABRI karya Ulf Sundhaussen (1986), Soekarno-Militer Dalam Demokrasi Terpimpin oleh Herbert Feith (1995), serta Militer dan Politik di Indonesia oleh Harold Crouch (1986).

Kemal jelas bukan satu-satunya pelaku sejarah yang tak mendapatkan tempat di buku sejarah kita. Penyebabnya sederhana, karena sejarah Indonesia ditulis dengan subjektif dan sesuai selera penguasa. Sejarah yang mestinya harus ditulis apa adanya, tanpa "bumbu" dan rekayasa, ternyata telah dipilah dan dipilih yang pada akhirnya lebih sebagai indoktrinasi ketimbang pembelajaran perjalanan bangsa dimasa lalu.


Untuk mencari pembenaran atas konklusi di atas tak usah jauh-jauh. Hampir setengah abad pascapembunuhan enam perwira tinggi TNI pada 1 Oktober 1965, masih banyak pertanyaan yang tak bisa dijawab oleh buku sejarah yang diajarkan di sekolah-sekolah hingga saat ini. Buku sejarah yang ada hanya menuliskan tentang sosok baik dan sosok buruk serta vonis akhir tentang pihak yang salah. Dan, penilaian atas sosok baik dan buruk itu tergantung selera penguasa ketika itu.

Maka, tidak heran ketika Kemal Idris meninggal dunia Rabu pagi, judul berita di media massa serta running text di layar televisi umumnya seragam. "Tokoh Petisi 50 Kemal Idris Meninggal Dunia", begitu tulisan yang muncul. Padahal, keberadaan Almarhum di kelompok bentukan Ali Sadikin itu tidak berarti apa-apa dibandingkan apa yang sudah diperbuatnya di masa perjuangan kemerdekaan serta pascakemerdekaan.


Tapi, media tidak salah. Yang patut disalahkan adalah para penulis sejarah yang sama sekali tidak menulis perjalanan bangsa ini dengan jujur. Saya sama sekali tidak memiliki pretensi untuk mengkultuskan seseorang. Sebaliknya, cuma berharap agar peran dan catatan perjalanan seorang tokoh ditulis secara benar dan apa adanya.

Saya juga berkesempatan bertatap muka dengan Letnan Jenderal (Mar) Ali Sadikin dan mantan Pangkopkamtib Jenderal Soemitro. Pada kesempatan itu saya katakan bahwa saya juga akan bertemu Kemal Idris untuk keperluan yang sama. Keduanya kemudian dengan santun meminta saya menyampaikan salam kepada perwira yang menurut Ali Sadikin "keras" dan "puritan" itu. Begitu pun ketika di akhir penelitian saya berkesempatan bertemu Jenderal TNI A.H. Nasution di kediaman beliau di Jalan Teuku Umar, Jakarta Pusat. "Bagaimana kabar Kemal?" tanya Pak Nas di sela-sela sarapan pagi, ketika mengetahui saya sudah bertemu dengan mantan Panglima Kostrad itu.


Sebagai orang yang (ketika itu) hanya mengenal sedikit sosok Kemal Idris, perhatian yang diperlihatkan para sesepuh TNI itu cukup mengagetkan. Belakangan, ketika data dan informasi tentang beliau makin banyak saya dapatkan, semua itu terasa lumrah. Kemal Idris terlalu kecil jika dihubung-hubungkan dengan Petisi 50 yang dimata rezim Orde Baru dianggap subversif itu. Faktanya, sikap keras kepala perwira ini telah ikut mempengaruhi perjalanan TNI serta bangsa ini. Sudah saatnya sejarawan serta Kementerian Pendidikan Nasional menuliskan sebuah sejarah yang jujur, agar generasi penerus bangsa ini tak merasa dibodohi di kemudian hari.***

(Tulisan ini pernah dimuat di Blog Liputan6.com, edisi 29 Juli 2010)

Suatu Malam di Nannini

Seorang teman mengatakan bahwa sop buntut paling enak itu ada di Plaza Senayan. Karena memang jarang bertandang untuk makan di PS, lantaran harga-harga makanan di sana yang kurang bersahabat dengan kantong, saya tak begitu peduli. Paling kalau ke PS untuk nonton, itu pun jarang-jarang karena harga tiket bioskop di Senayan City masih lebih terjangkau ketimbang di PS.

Dan lagi, gerai makanan yang ada di PS agak kurang familiar namanya bagi saya, bahkan mengeja namanya pun sering salah. Jadi, promosi teman itu saya anggap angin lalu. Daripada sok gaya menjajal makanan di gerai-gerai yang memiliki nama aneh itu, lebih baik ke ruman makan Padang atau warteg, jelas rasa dan pasti harganya. Kalau lagi mau bergaya ya cari fastfood yang standar macam McDonald atau KFC. Asal jangan Burger King aja.

Namun, suatu hari saya diajak teman ini untuk mencicipi sop buntut favoritnya itu. Acaranya dalam rangka merayakan diterimanya seorang teman bekerja di sebuah grup perusahaan besar di Jakarta. Kita berempat, ketika itu, akhirnya menikmati suguhan sop buntut ditemani susu cokelat yang panas dan diakhiri dengan banana split. Oya, nama gerai tempat kami makan itu Nannini. Adanya di lantai dua atau dua kali naik eskalator.

Ternyata promosi itu tak salah. Sop buntut yang digembar-gemborkan itu memang lezat, sesuai dengan harga yang ditawarkan. Selain dagingnya yang sangat empuk, bumbu sopnya juga sangat pas. Jadi, niat sang teman untuk mencari teman satu selera berhasil sepertinya. Bahkan, beberapa waktu kemudian saya juga sibuk menceritakan lezatnya itu sop buntut ke beberapa orang teman.

Nah, salah satu korban dari cerita saya adalah teman lama sejak masa sekolah dulu. Karena kebetulan dia akan merayakan ulang tahun ke......, udah tua pokoknya, maka direkomendasikan saja Nannini. Dia setuju, karena sebelumnya udah diceritakan soal sop buntut di tempat itu. Maka, pertengahan Juli silam, berempat kami memesan tempat di Nannini, sekitar pukul 20.00 WIB.

Teman yang berulang tahun pun akhirnya mengakui kalau sop buntut itu enak. Dia pun tak terlihat keberatan ketika harus mengeluarkan kartu kredit guna membayar semua pesanan kami. Ternyata, promosi dari mulut ke mulut itu kembali membuktikan keampuhannya sebagai salah satu teknik pemasaran. Nah, silahkan menikmati ekspresi kami yang tengah menyantap sop buntut Nannini.



Semangkok sop buntut yang empuk memang menggoda rasa


Bincang-bincang diundur sampai selesai bersantap, semua fokus ke makanan...


Satu-satunya wanita di rombongan kami, Cut Nursyanti


Cut dipinjam dulu dari Arex buat bergaya


Ini dia Arex, yang pertama kali mempromosikan sop buntut Nannini pada kami


Yang satu fans Lionel Messi, satunya lagi suka Fabio Cannavaro


Cut bersama pria yang paling baik malam itu, karena mentraktir kami


Kasihan Dedy, datang sendiri karena sang istri tibat-tiba sakit


Saat foto ini diunggah, istri Dedi sudah hamil sekitar satu bulan


Senyum optimis seorang calon ayah


Kalau ini wajah pesimis untuk melangsungkan pernikahan


Kalau ini wajah polos dan ikhlas menunggu datangnya pendamping


Tanda-tanda akan sosok itu sudah dibisikin oleh Cut


Pada pertemuan berikutnya semoga jumlah pria dan wanita bisa imbang, amin...

Sabtu, 24 April 2010

Susno Disayang, Susno Dikemplang

Rinaldo


"Drama" itu terjadi Senin petang lalu. Seorang pria mengenakan jaket cokelat dan memakai topi dikerubungi beberapa orang berseragam provost. Dari emblem yang dikenakan, para provost ini jelas bukan petugas sembarangan. Semuanya perwira menengah polisi. Tak heran, karena yang mereka hadapi juga bukan orang sembarangan. Komisaris Jenderal Polisi Susno Duadji, mantan Kepala Badan Reserse Kriminal Polri yang menjadi target mereka.

Publik kemudian mafhum, bahwa ketika itu petugas provost mendatangi Bandar Udara Soekarno-Hatta untuk mencegah keberangkatan Susno. Sebagai perwira tinggi Polri yang masih aktif, Susno dinilai telah melanggar kode etik dan disiplin Polri karena berangkat ke luar negeri tanpa izin pimpinan. "Alasan apa pun, kalau berpergian ke luar negeri, harus ada izin," tegas Kepala Divisi Humas Mabes Polri Inspektur Jenderal Polisi Edward Aritonang.


Menilik pada alasan itu, Polri berada pada garis yang benar. Untuk menegakkan disiplin organisasi, pelanggaran memang tak boleh ditolerir, sekalipun dilakukan seorang perwira tinggi. Hanya saja, kejadian di Bandara Soekarno-Hatta petang itu kurang enak dipandang. Seorang jenderal polisi berbintang tiga dikepung beberapa perwira menengah untuk sesuatu yang bagi kebanyakan orang dianggap sepele.

Sulit untuk meyakini bahwa Polri petang itu sedang menegakkan disiplin. Saling dorong, adu argumen dan pengepungan oleh belasan personel kepolisian jelas tidak pantas dilakukan terhadap seorang jenderal berbintang tiga di depan umum. Apalagi pencegahan itu tanpa disertai surat perintah dan tanpa kejelasan pihak yang memberi perintah. Karena itu, yang kemudian terlihat adalah sebuah tontonan dimana seorang jenderal polisi harus dipaksa koleganya. Ditambah lagi, paspor sang jenderal ikut ditahan.

Alhasil, alih-alih ingin menegakkan disiplin, kecaman bertubi-tubi datang dari berbagai kalangan. "Ini menjelaskan Polri tidak siap berubah. Polri tidak siap menerima perubahan dan melakukan perbaikan-perbaikan," kata Wakil Ketua Komisi III DPR Fahri Hamzah.

Lain lagi dengan Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Tjahjo Kumolo. Menurutnya, posisi Susno tidak membahayakan sampai harus dilakukan penangkapan paksa. "Gelagatnya, posisi Polri sudah pada tahap membahayakan sebagai institusi. Sudah terjadi demoralisasi institusi Polri," ujarnya.

Argumen yang sangat masuk akal juga datang dari anggota Komisi III DPR Ahmad Yani. Menurutnya, apa yang dilakukan Polri merupakan langkah yang tidak sehat. Di satu sisi Susno sedang membeberkan rangkaian pengungkapan kasus besar demi negara. Tapi, dengan tindakan Propam, Polri menunjukkan langkah yang kontraproduktif. "Saya melihat cara yang digunakan kepolisian seperti cara-cara di zaman PKI," tegasnya.

Sedangkan Ketua Komisi III Benny Kabur Harman langsung menohok pada legalitas formil dari penangkapan itu. "Apabila penangkapan itu terkait dengan pelanggaran kode etik, upaya paksa tidak bisa diterapkan," kata politisi Partai Demokrat ini.


Untuk melihat masalah ini dengan lebih terang, mari kita coba mengupasnya pelan-pelan. Pertama, kita lihat dulu posisi Susno di tubuh kepolisian. Menurut data yang ada, saat ini ada sekitar 400 ribu personel Polri. Hampir 90 persen di antaranya adalah bintara, dan sisanya perwira. Bayangkan, bila dikerucutkan lagi, tentu saja jumlah perwira tinggi Polri tak sampai satu persen. Nah, jika terus diurut ke atas, berapa jumlah perwira tinggi Polri yang berbintang tiga atau berpangkat komisaris jenderal?

Hanya lima orang pejabat struktural yang menyandang bintang tiga di Polri saat ini. Mereka adalah Wakil Kapolri Komjen Pol. Yusuf Manggabarani, Inspektur Pengawasan Umum Polri Komjen Nanan Sukarna, Kepala Badan Narkotika Nasional Komjen Pol Gories Mere, Kabareskrim Komjen Pol Ito Sumardi, dan Kepala Badan Pembinaan Keamanan Mabes Polri Komjen Pol Iman Haryatna. Di luar itu ada Susno Duadji sebagai satu-satunya jenderal bintang tiga yang tanpa jabatan.

Bisa dilihat betapa pentingnya posisi Susno, khususnya dari sisi kepangkatan. Jika berandai-andai, ratusan ribu polisi pasti akan memberi hormat terlebih dahulu kepada Susno. Sedangkan Susno hanya punya kewajiban memberi hormat terlebih dahulu kepada satu orang, yaitu Kapolri. Jika diurut sesuai jabatan, ada lima orang lagi mengingat saat ini Susno adalah Komjen tanpa jabatan. Tapi, Susno tetaplah orang penting, karena hanya jenderal sekelas Kapolri yang bisa memberinya perintah.

Begitu tingginya posisi Susno sehingga tidak berlebihan jika dikatakan bahwa dia adalah perwira polisi yang harus selalu dihargai dan dijaga kewibawaannya. Tak hanya oleh Susno sendiri, tapi juga oleh institusinya. Kalau seorang brigadir polisi dipukul seorang preman bisa membuat polisi satu markas mengamuk, kira-kira apa yang akan terjadi jika seorang komjen seperti Susno diperlakukan tidak santun? Bisa jadi seluruh polisi di republik tercinta ini akan naik darah.


Tapi, yang kita saksikan dalam "drama" di Bandara Soekarno-Hatta tidak mencerminkan itu. Polri telah membuat "malu" institusinya sendiri. Seorang komjen dipermalukan di depan umum seolah tak ada lagi cara yang lebih masuk akal dan terhormat guna mencegah keberangkatan sang jenderal ke luar negeri. Tidak berlebihan jika Benny Kabur Harman mengatakan bahwa Polri seperti panik menghadapi Susno yang mengungkap sejumlah tokoh kunci praktik makelar kasus.

Di lain sisi mari kita lihat posisi Susno dalam konstelasi penegakan hukum saat dirinya dicegah bepergian. Tak bisa disangkal Susno saat ini adalah sosok yang menjadi tumpuan harapan banyak pihak untuk membersihkan institusi kepolisian dari praktik-praktik kotor mafia hukum. Gebrakan yang dia buat sejak mengungkap adanya gurita mafia pajak di seluruh lembaga penegak hukum membuat publik terpana.

Memang awalnya ada resistensi dari Polri atas keberanian Susno. Namun, itu menjadi tak perlu ketika satu per satu pihak yang disebut ternyata memenuhi bukti permulaan yang cukup untuk menjadi tersangka. Tak kurang dari jenderal di Mabes Polri, seorang kepala kejaksaan tinggi, pengacara, dan sejumlah pegawai Direktorat Jenderal Pajak terseret dalam kasus ini. Satu hal bisa kita catat; Susno bukan pembohong.

Bisa saja banyak pihak yang tidak suka, termasuk di tubuh Polri, mengatakan apa yang dilakukan Susno tak lebih dari upaya balas dendam, sakit hati, atau ingin mencari popularitas. Tapi, bukankah itu semua menjadi tak penting ketika keterangan yang diberikan telah membuka borok-borok di dalam tubuh aparat penegak hukum kita. Tak peduli apa pun alasan Susno sebenarnya, tapi satu hal, bahwa keterangannya bisa membuka pintu bagi pembersihan aparat penegak hukum, itu sudah pasti.

Jadi, akan lebih tepat jika Mabes Polri bersikap sebaliknya. Bukan memusuhi, memata-matai atau membuat hidup Susno menjadi tak nyaman, bahkan terancam. Sulit untuk dicerna logika ketika Susno meminta perlindungan pada DPR karena dirinya merasa terancam. Pasalnya, keterangan yang dia berikan sama sekali tidak ditanggapi positif oleh lembaga tempatnya mengabdi. "Justru yang saya dapatkan adalah ancaman pidana," kata Susno pada rapat dengar pendapat dengan Komisi III DPR, beberapa waktu lalu.


Sudah seharusnya, tanpa diminta pun, Polri harus menjaga dan memberi pengamanan bagi Susno dan keluarganya, mengingatnya kasus yang dia bongkar berhubungan dengan para petinggi di negeri ini. Tak bisa tidak, keberanian Susno mestinya bisa dijadikan momentum oleh Polri untuk bersih-bersih di lembaganya. Jika Polri memilih cara sebaliknya, memusuhi serta menjauhi Susno, itu akan menjadi kontraproduktif bagi pembersihan di tubuh Polri.

Polri mungkin bisa belajar dari cara Komisi Pemberantasan Korupsi memperlakukan Agus Condro. Mantan anggota DPR dari Fraksi PDI Perjuangan itu benar-benar dijadikan "harta karun" oleh KPK dalam mengungkap kasus suap pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia. Meski Agus juga termasuk pihak yang menerima suap, KPK lebih memilih kepentingan yang lebih luas, yaitu membongkar jaringan penyuapan yang melibatkan sejumlah anggota DPR, pengusaha, dan calon DGS BI sendiri.

Hal itu sangat berbeda dengan yang terjadi pada Susno. Bukannya menunggu dan meminta keterangan lainnya tentang gembong mafia hukum di tubuh aparat penegak hukum, Polri malah menyiapkan 10 tuduhan pelanggaran etika dan disiplin bagi komjen ini. Bahkan, muncul pula dugaan bahwa tuduhan itu nantinya akan bermuara pada pemecatan Susno dari Polri. Kalau itu benar terjadi, betapa sudah terbaliknya akal sehat. Orang yang ingin menegakkan hukum terus dicari-cari kesalahannya, sedangkan para mafia bebas berkeliaran tak tersentuh tangan hukum.

Lantas, apakah dengan begitu Susno tak boleh dipersalahkan? Tentu boleh, karena kesalahan, baik itu jenisnya pelanggaran atau tindak pidana tetap harus diberi ganjaran. Masalahnya, lebih penting mana menjaga dan memberi rasa aman bagi Susno untuk membongkar jaring-jaring mafia hukum dibandingkan dengan mendahulukan menjegal komjen ini untuk urusan etika serta disiplin. Di sinilah Polri harus pintar-pintar memilih skala prioritas. Jika Polri sadar sebagai lembaga penegak hukum dan bukan lembaga perlindungan bagi pelanggar hukum, tentu tak sulit untuk memilih prioritas itu.***

(Tulisan ini pernah dimuat di rubrik FOKUS Liputan6.com edisi 15 April 2010)