Minggu, 05 Oktober 2008

Laskar Pelangi, Cermin Retak Dunia Pendidikan

Sepanjang Ramadhan silam, Laskar Pelangi menjadi topik hangat di antara beberapa teman di Newsroom. Bahasannya tak lain rasa penasaran akan kehadiran film yang diangkat dari novel laris karya Andrea Hirata itu. Jauh sebelumnya, prediksi bahwa novel ini akan difilmkan sudah mengemuka. Bahkan, beberapa teman sudah menebak-nebak sutradara yang akan mengangkat pengalaman hidup Ikal dan kawan-kawan ini ke layar lebar.

Misalnya, andai novel ini dibesut seorang sutradara spesialis film horor, tentulah sosok Tuk Bayan Tula yang akan mengemuka. Begitu pula jika Laskar Pelangi ditukangi sutradara film roman remaja, bisa dipastikan kisah asmara Ikal-Aling yang akan menjadi jualan. Syukurlah belakangan ternyata Riri Riza yang mendapat berkah itu, sehingga dipastikan nilai-nilai baik dalam novel ini tak akan hilang, khususnya pesan moral soal pendidikan.


Laskar Pelangi bukanlah novel pertama tentang pendidikan yang menguras perhatian saya. Jauh sebelumnya saya sudah dibuat terpesona oleh novel Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela, buah karya Tetsuko Kuroyanagi. Satu tahun sejak diterbitkan pertama kali pada 1981, di Jepang saja novel ini sudah terjual 4,5 juta kopi. Entah berapa lagi yang terjual setelah Gramedia menerbitkannya dalam edisi bahasa Indonesia di tahun 1985.

Novel ini berkisah tentang pengalaman penulis yang akrab disapa Totto-chan saat bersekolah di Sekolah Dasar Tomoe Gakuen menjelang Perang Dunia II. Kalau dalam Laskar Pelangi penulisnya memuja Ibu Guru Muslimah, dalam buku ini si penulis memperlihatkan kekaguman pada sang Kepala Sekolah sekaligus gurunya Sosaku Kobayashi. Sang guru ini punya metode berbeda dalam mendidik murid-muridnya di sekolah tak resmi di gerbong kereta api yang tak lagi terpakai.


Menggugah memang, tapi buat saya, Laskar Pelangi jauh di atas itu. Selain cara penceritaan yang datar, Totto-chan tak banyak mengalami penderitaan saat bersekolah. Yang menonjol adalah uniknya sistem pendidikan yang diberikan Tuan Kobayashi. Sedangkan membaca Laskar Pelangi, batin saya langsung tertohok. Ada amarah, sakit hati, dan kegundahan membayangkan runyamnya pendidikan di negeri ini.


Jadi, ada harapan yang meluap bahwa filmnya juga akan memberi kepuasan kedua setelah membaca novelnya. Karena itu, dengan beberapa orang teman, di hari pertama pemutaran film ini pada 25 September lalu, sejak siang tiket sudah dipesan untuk jam penayangan malam hari. Berjubel dengan penonton lainnya, studio satu Plaza Senayan XXI pun penuh sesak Kamis malam itu.

Harapan tersebut tak berlebihan. Kendati ada beberapa segmen yang dirasa kuat di dalam novel tak tertuang di filmnya, Laskar Pelangi: The Movie tetap saja sebuah karya hebat. Segala kekurangan dan keluhan tertutup oleh akting luar biasa tiga bocah tokoh sentral cerita ini serta menawannya Cut Mini dan Ikranagara dalam bertutur.

Kekaguman itu pula yang membuat saya langsung mengangguk ketika dua adik saya yang masih duduk di bangku sekolah memaksa untuk menemani mereka menyaksikan film ini, dua hari setelah Lebaran di Hollywood KC 21. Bahkan, saat menonton untuk kedua kalinya, kekaguman, keharuan serta tawa kecil masih saja menyertai saya menonton film ini.


Semuanya menjadi terasa lengkap, ketika Minggu pagi kemarin Riri Riza dan Ikranagara hadir di Newsroom untuk berdialog dalam Liputan 6 Pagi. Dan entah kenapa, saya tak kaget ketika mendengar Riri mengatakan Laskar Pelangi sudah disaksikan hampir setengah juta penonton pada empat hari pertama penayangannya. Buat saya itu angka yang sangat wajar dan sudah bisa diprediksi.


Belum selesai di situ, Rabu (8/10) petang silam Riri datang lagi ke Newsroom. Kali ini agak ramai. Ada Andrea Hirata, Slamet Rahardjo, Kak Seto, Komarudin Hidayat, Ade Armando, Giring, dan beberapa pengamat sastra. Mereka masuk ke studio untuk rekaman perdana program Barometer, acara dialog pengganti Topik Minggu Ini. Puja dan puji untuk film ini kembali terlontar dari seluruh peserta dialog.


Saya percaya, film bisa mengubah cara berpikir dan bersikap seseorang. Tapi, saya skeptis mereka yang mengelola pendidikan di negeri ini akan tergugah usai menyaksikan Laskar Pelangi. Pasalnya, kisah Ikal bukan cerita masa lalu, tapi identik dengan saat ini. Cerita Ikal dengan sekolah reyot dan atap bocor tak sulit kita temukan saat ini. Itulah sebenarnya yang lebih menyakitkan.


Setelah lebih dari setengah abad UUD 1945 mengamanatkan kepada negara untuk menjadikan pendidikan sebagai hak setiap warga negara, pungutan ternyata makin menggila. Ketika pemerintah menaikkan anggaran pendidikan, berita tentang sekolah yang rubuh susul menyusul. Alih-alih menjadi tempat mendidik calon pemimpin bangsa, tak sedikit sekolah yang berubah menjadi lumbung uang bagi para guru yang memaksa murid membeli buku titipan penerbit.

Intinya, Laskar Pelangi bukan kisah buramnya dunia pendidikan di masa lalu, tapi bukti bahwa dunia pendidikan kita jalan di tempat. Selain menteri pendidikan, warna seragam, dan kurikulum, tak ada yang berubah dengan sistem pendidikan di negeri ini.


Jadi, kalau tertawa terlalu keras saat menonton Laskar Pelangi, Anda sama saja menertawakan diri sendiri. Kita lebih pantas untuk bersedih, karena mereka yang mengurusi pendidikan di negeri ini belum tentu mengerti maksud di balik film Laskar Pelangi.***


[untuk memperbesar gambar silahkah di-klik]


Beberapa hari sebelum nonton, bersama rekan-rekan di Newsroom menyaksikan liputan dari pemutaran premier Laskar Pelangi di Hollywood KC 21.


Sambil menyaksikan hasil liputan, diskusi jalan terus.


Newsroom seperti tersihir menyaksikan potongan adegan demi adegan.


Sesekali ada juga gelak tawa.


Pada hari penayangan perdana, siang-siang tiket sudah dipesan untuk pertunjukan malam.


Jauh sebelum filmnya dirilis, wallpaper Laskar Pelangi sudah menghiasi layar komputer.


Sayangnya tak bisa mengabadikan keramaian di Plaza Senayan XXI karena terus menerus dipelototin petugas security.


Usai Lebaran, antrean Laskar Pelangi di Hollywood KC 21 masih panjang, kendati ditayangkan di dua studio.


"Tiket ini akan Putri simpan untuk bukti ke teman-teman di sekolah," ujar cewek ini bangga.


Mudah-mudahan generasi penerus bangsa ini bisa berkaca dari film yang baru saja mereka tonton.


Juanita Wiraatmaja bersiap untuk mewawancarai Riri Riza dan Ikranagara di Liputan 6 Pagi.


"Empat hari pertama penayangan, Laskar Pelangi sudah disaksikan setengah juta penonton," ujar Riri.


"Untuk peran ini saya juga mencari sosok guru ideal semasa sekolah dulu agar bisa mengekplorasi peran," ujar Pak Harfan, nama Ikranagara kalau sedang berada di Pulau Belitung.


Rekaman tayangan dialog Barometer pun usai.


Ariyo Ardi, presenter SCTV, tengah merayu Giring agar bisa jadi additional vocal Nidji.


Andrea yang pertama ngacir karena tengah ditunggu Presiden Yudhoyono di Blitz Megaplex, Grand Indonesia, untuk nonton bareng.


Slamet Rahardjo dan yang slamet berfoto bareng aktor senior ini.


Sutradara Laskar Pelangi dan sutradara blog ini mejeng.


Kalau wartawan infotainment melihat foto ini, bakal jadi gosip di Halo Selebriti.


"Giring itu wangi lho," kata Syamsul, penikmat sastra dari Newsroom.


Malamnya, rekaman dialog itu pun ditayangkan SCTV.


Laskar Pelangi dan Totto-chan, ungkapan cinta dua orang murid terhadap sang guru.


5 komentar:

Anonim mengatakan...

Bang Nal, boleh nggak mengcopy foto2nya, boleh yaaa

Anonim mengatakan...

tulisan tentang Laskar Pelangi dan foto pendukungnya sama2 bagus, salut buat bos aldo

Anonim mengatakan...

bikin ngiri banget foto-fotonya bang, bercerita dari awal sampai akhir, kalo ketemu artis lain kali ajak-ajak kita dong, he..he..he..

Arra Araide mengatakan...

posenya putri...
gak nahan... hahah...

Anonim mengatakan...

Bisnis media/film di indonesia ada yg mengatakan adalah bisnis yg tidak lebih dari sekedar bisnis semata. Disitu ada kesempatan, disitu profit diubek-ubek.

Di Hollywood, sebuah buku biasanya di angkat ke layar lebar pasti memakan waktu bertahun-tahun bahkan puluhan tahun, setelah sebuah buku itu terbit. Anehnya di Indonesia dalam waktu tidak lebih dari 3 tahun terbit, sebuah buku langsung diangkat ke layar lebar. Artinya apa..???

Produsen hanya mengikuti pasar, tanpa menciptakan pasar baru. Disitu ada cinta, semua produsen membuat ttg cinta.dan akhirnya rating turun. Ketika rating Horor naik, maka produsen berbondong-bondong membuat film horor (dan seterusnya). Tapi itulah bisnis media. Mengikuti pasar tanpa pernah menciptakan new market.

Ibarat: kenapa di pasar masih ada yg jualan singkong? jawabannya : karena masih ada yg butuh singkong.Itulah gambaran masyarakat Indonesia (khususnya abg2 yg mungkin diperbodohi).

Apapun itu, setidaknya kita menghargai buah karya bangsa Indonesia ini, walau kadang rada ngaco atau suka plagiat.....